News / Internasional
Rabu, 08 April 2026 | 12:41 WIB
Mojtaba Khamenei (Tasnimnews)
Baca 10 detik
  • Mojtaba Khamenei dikabarkan dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri di pusat medis Qom.

  • Intelijen Amerika Serikat mendeteksi adanya potensi pengambilalihan kekuasaan Iran oleh kelompok militer IRGC.

  • Ketidakhadiran pemimpin tertinggi dalam pengumuman gencatan senjata dengan AS memicu keraguan publik internasional.

Suara.com - Dunia internasional kini tengah menyoroti hilangnya sosok pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dari pandangan publik secara misterius.

Ayatollah Mojtaba Khamenei hingga kini belum menampakkan diri setelah tercapainya kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.

Kesepakatan penting tersebut baru saja diresmikan pada hari Rabu tanggal 8 April 2026 melalui diplomasi yang alot.

Meskipun Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut langkah ini sudah direstui pemimpin mereka, sosoknya tetap tidak terlihat.

Pihak Mehr News Agency sendiri tidak memberikan rincian mengenai bagaimana tanggapan langsung dari sang pemimpin tertinggi.

Padahal momen gencatan senjata ini dipandang sebagai pencapaian diplomatik yang sangat signifikan bagi pihak Republik Islam.

Banyak analis menilai posisi Iran berada di atas angin setelah Donald Trump bersedia mengakomodasi sepuluh poin tuntutan.

Keberhasilan menunda serangan militer Amerika Serikat seharusnya menjadi panggung utama bagi Mojtaba Khamenei untuk tampil memberikan pidato.

Namun kebungkaman yang terus berlanjut ini justru memperkuat indikasi adanya masalah serius di internal pemerintahan Iran.

Baca Juga: AS Menyerah Usai 40 Hari Perang, Iran Deklarasi Kemenangan: Tapi Tangan Kami Masih di Pelatuk!

Kecurigaan publik semakin memuncak seiring munculnya berbagai laporan intelijen mengenai status kesehatan sang pemimpin tertinggi.

Sebuah memo diplomatik yang bersumber dari data intelijen Amerika Serikat baru-baru ini dibocorkan oleh media The Times.

Dokumen rahasia tersebut mengklaim bahwa saat ini Mojtaba Khamenei sedang berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Ia dikabarkan harus menjalani perawatan medis tingkat tinggi secara intensif di wilayah kota suci umat Syiah, Qom.

Laporan tersebut bahkan menyebutkan bahwa sang pemimpin dalam keadaan tidak sadar sehingga tidak mampu mengelola pemerintahan.

Meskipun informasi ini sangat mendetail, otoritas resmi di Teheran belum memberikan konfirmasi atau bantahan secara terbuka.

Load More