-
Investigasi PBB menyatakan tank Merkava Israel menembakkan peluru ke arah posisi pasukan TNI.
-
Selain tank, ditemukan peledak IED yang diduga milik Hizbullah sebagai penyebab kematian prajurit.
-
Pemerintah Indonesia menuntut perlindungan keamanan penuh bagi seluruh personel UNIFIL di wilayah Lebanon.
Suara.com - Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa akhirnya merilis temuan krusial terkait tragedi yang menimpa personel keamanan dunia.
Investigasi awal menunjukkan adanya keterlibatan alat utama sistem persenjataan berat dalam peristiwa berdarah di perbatasan tersebut.
Tiga anggota Tentara Nasional Indonesia TNI yang tergabung dalam misi UNIFIL dikonfirmasi menjadi korban dalam serangan fatal.
Insiden yang terjadi pada akhir Maret 2026 ini memicu gelombang kecaman internasional terhadap pihak-pihak yang bertikai.
Stephane Dujarric selaku juru bicara resmi Sekretaris Jenderal PBB memaparkan fakta medis dan teknis lapangan.
Analisis mendalam dilakukan pada fragmen material yang ditemukan di titik ledakan posisi pasukan perdamaian PBB.
Petugas lapangan menemukan sisa-sisa proyektil yang sangat identik dengan spesifikasi tempur milik militer negara tertentu.
Fakta ini menjadi titik terang setelah simpang siur informasi mengenai siapa pelaku di balik serangan tersebut.
Hasil pengujian laboratorium militer mengonfirmasi bahwa hantaman berasal dari arah timur wilayah Ett Taibe.
Baca Juga: 'Prabowo Subianto' Jadi Model Drummer Video Klip LEGO soal Perang Iran vs Amerika - Israel
Dujarric menegaskan bahwa identitas senjata tersebut merupakan bagian dari unit kavaleri yang beroperasi di wilayah konflik.
"Terkait insiden 29 Maret, berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi dampak dan khususnya fragmen proyektil yang ditemukan di posisi Perserikatan Bangsa-Bangsa 7-1, proyektil tersebut adalah peluru utama tank kaliber 120 mm, yang ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, menuju Ett Taibe," kata Dujarric.
PBB mengklaim bahwa mereka telah melakukan langkah preventif dengan membagikan data lokasi kepada pihak terkait.
Informasi koordinat satelit tersebut seharusnya menjadi acuan agar personel internasional tidak menjadi target serangan salah sasaran.
Namun nyatanya serangan tetap terjadi meskipun identitas markas pasukan perdamaian sudah terdata secara resmi di sistem.
Kecerobohan ini dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap perjanjian perlindungan petugas kemanusiaan di zona merah perang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina