News / Nasional
Rabu, 08 April 2026 | 12:59 WIB
Anggota Komisi XII DPR RI Shanty Alda Nathalia. (Dok. ist)
Baca 10 detik
  • Anggota DPR Shanty Alda Nathalia menyoroti kenaikan harga avtur yang dapat mengganggu konektivitas dan distribusi logistik nasional di Indonesia.
  • Lonjakan harga avtur berpotensi meningkatkan biaya operasional maskapai dan mendorong kenaikan harga tiket pesawat bagi masyarakat.
  • Pemerintah didesak melakukan langkah antisipatif seperti subsidi terarah atau pengelolaan pasokan guna menjaga stabilitas sektor transportasi.

Suara.com - Kenaikan harga avtur dalam waktu singkat menjadi sorotan berbagai pihak karena dinilai berpotensi menimbulkan efek berantai pada sektor transportasi dan distribusi nasional. Kondisi ini dianggap sebagai sinyal adanya tekanan pada rantai pasok energi global yang perlu segera diantisipasi oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan.

Anggota Komisi XII DPR RI Shanty Alda Nathalia menilai dinamika harga avtur tidak dapat dipandang sebagai isu sektoral semata. Menurutnya, fluktuasi harga bahan bakar pesawat tersebut berpotensi memicu dampak yang lebih luas terhadap sistem transportasi nasional.

“Pergerakan harga avtur dalam waktu singkat menegaskan adanya tekanan pada rantai pasok energi yang perlu segera diantisipasi, agar tidak berkembang menjadi dampak yang lebih luas terhadap sektor transportasi dan distribusi nasional,” ujarnya.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang selama ini berupaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya untuk sektor transportasi darat dan logistik. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas biaya distribusi barang serta mobilitas masyarakat.

Namun demikian, Shanty mengingatkan bahwa masih terdapat sektor lain yang belum sepenuhnya terlindungi dari dampak gejolak harga energi global, terutama transportasi udara yang sangat bergantung pada avtur.

“Kami mengapresiasi upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga BBM, khususnya untuk sektor transportasi darat termasuk kendaraan roda empat dan distribusi logistik, di tengah tekanan global. Namun demikian, perlu diantisipasi dampak pada sektor-sektor yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan tersebut, khususnya transportasi udara yang sangat bergantung pada avtur,” lanjutnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa transportasi udara memiliki peran strategis dalam menjaga konektivitas antarwilayah di Indonesia, terutama bagi daerah yang memiliki keterbatasan akses transportasi darat maupun laut.

Jika harga avtur terus meningkat, biaya operasional maskapai diperkirakan ikut melonjak. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga tiket pesawat yang pada akhirnya dapat memengaruhi mobilitas masyarakat serta kelancaran distribusi logistik.

“Kondisi ini menjadi krusial mengingat transportasi udara memiliki peran strategis dalam menjaga konektivitas antarwilayah, terutama bagi daerah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap moda ini untuk mobilitas dan distribusi logistik,” jelasnya.

Baca Juga: Fasilitasi Perantau, Sejumlah Anggota DPR RI Gelar Program Mudik Gratis 2026

Karena itu, Shanty mendorong pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipatif guna meredam dampak kenaikan harga energi global. Beberapa opsi kebijakan yang dapat dipertimbangkan antara lain penguatan pengelolaan pasokan energi, pemberian subsidi yang lebih terarah, hingga mekanisme penyesuaian tarif yang tetap menjaga keterjangkauan bagi masyarakat.

“Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret untuk meredam dampak kenaikan harga energi global, termasuk melalui penguatan pengelolaan pasokan serta penyiapan opsi kebijakan seperti subsidi yang lebih terarah atau mekanisme penyesuaian tarif yang tetap menjaga keterjangkauan masyarakat,” tutupnya.

Dengan kebijakan yang tepat dan langkah antisipatif dari pemerintah, diharapkan dampak kenaikan harga avtur dapat diminimalkan sehingga stabilitas sektor transportasi serta konektivitas nasional tetap terjaga di tengah dinamika energi global.

Load More