- PM Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata Amerika Serikat dengan Iran tidak berlaku bagi wilayah Lebanon.
- Operasi militer Israel di Lebanon akan terus berlanjut demi membentuk zona penyangga sebagai langkah keamanan wilayah.
- Sejak 2 Maret 2026, konflik telah menyebabkan 1.500 orang tewas serta memaksa 1,2 juta warga Lebanon mengungsi.
Suara.com - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak mencakup Lebanon.
Pernyataan ini sekaligus memastikan operasi militer Israel di wilayah tersebut akan tetap berlanjut.
Dalam pernyataan resmi pada Rabu (8/4), kantor PM Netanyahu menyambut keputusan Donald Trump untuk menghentikan sementara serangan terhadap Iran.
Netanyahu menegaskan bahwa kesepakatan itu hanya berlaku untuk konflik langsung dengan Teheran.
“Gencatan senjata selama dua minggu ini tidak mencakup Lebanon,” tegas Netanyahu dilansir dari Aljazeera.
Ia juga menyatakan dukungan terhadap upaya AS memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman nuklir, rudal, maupun teror bagi kawasan dan dunia.
Konflik meluas ke Lebanon sejak 2 Maret 2026, ketika kelompok Hezbollah melancarkan serangan ke Israel.
Serangan itu disebut sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada awal perang.
Sejak saat itu, eskalasi meningkat tajam. Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 1.500 orang tewas dan sekitar 1,2 juta warga terpaksa mengungsi akibat serangan Israel yang terus berlanjut.
Baca Juga: Berapa Harga yang Harus Dibayar Donald Trump dari Gencatan Senjata dengan Iran?
Militer Israel bahkan disebut telah melancarkan invasi ke Lebanon selatan.
Tujuannya adalah membentuk zona penyangga demi alasan keamanan, meski langkah ini menuai kecaman luas.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Hezbollah maupun pemerintah Lebanon terkait pernyataan terbaru Netanyahu.
Namun, situasi di lapangan menunjukkan serangan masih terus berlangsung di sejumlah wilayah selatan.
Berita Terkait
-
Berapa Harga yang Harus Dibayar Donald Trump dari Gencatan Senjata dengan Iran?
-
Donald Trump: Kami Akan Bantu Rekonstruksi Iran, Ini Era Emas Timur Tengah
-
2 Masalah Besar Ini Jadi Alasan Donald Trump Pilih Damai Sementara dengan Iran
-
Terungkap! AS Sudah 'Ngemis' Minta Ampun Sejak Hari ke-10 Perang, Kini Tunduk pada 10 Syarat Iran
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Kemasan Rokok Seragam Berisiko Tabrak UU Merek, Wamenkum: Jangan Over Regulation!
-
Sebut Polri Paling Korup, Burhanuddin Muhtadi Bongkar Kelemahan Survei IndexMundi
-
Jalan Cinta Amblas Nyaris 90 Derajat, DKI Bongkar Pemicunya: Tanggul Kali Sunter Retak!
-
Isi Amplop Menhut Raja Juli Masih Misteri, KPK Duga Suap Hutan Kuansing Pakai Dolar Singapura
-
Jokowi Mau Jadikan Jateng 'Kandang Gajah', Gerindra: Bagus, Kompetisi Politik Makin Sehat!
-
Bupati Kuansing Diduga Kumpulkan Duit dari 914 Anggota KUD untuk Suap Pelepasan Hutan
-
Aksi Bersih-bersih atau Cari Aman, Kenapa Menhut Raja Juli Baru Lapor Amplop Usai OTT KPK?
-
Eks Pimpinan KPK Sebut Menhut Raja Juli Akal-akali Balikin Amplop: Tetap Suap, Bisa Jadi Tersangka
-
Kader PSI Kalsel Desak Jokowi Segera Dilantik Jadi Ketua Dewan Pembina, Begini Respons Kaesang
-
Duet 'Indonesia Emas 2045' dan 'India Maju 2047', PM Narendra Modi: Kita Mitra Alami