News / Internasional
Rabu, 15 April 2026 | 14:39 WIB
Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara sepihak menyatakan bahwa China dilarang keras untuk membeli atau mendapatkan pasokan minyak mentah dari Iran. [Antara]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara sepihak menyatakan bahwa China dilarang keras untuk membeli atau mendapatkan pasokan minyak mentah dari Iran.
  • AS mengerahkan 10.000 pasukan untuk memblokir Selat Hormuz lantaran panik mengetahui militer Iran sukses memakai satelit intelijen China di Asia Barat.
  • Di tengah blokade ilegal tersebut, Donald Trump justru mengisyaratkan keputusasaannya dengan berharap perundingan damai bisa kembali dilanjutkan di Pakistan.

Narasi Kemenangan Palsu di Balik Rencana Perundingan

Sang presiden secara sepihak mengklaim bahwa peperangan berdarah dengan Republik Islam Iran ini sudah hampir mencapai titik akhir kemenangannya.

"Saya pikir ini sudah hampir berakhir, ya, maksud saya, saya melihatnya sudah sangat dekat dengan kata berakhir," ujar Trump mencoba memanipulasi pandangan publiknya.

Ia bahkan memandang rendah kekuatan negara lawan dengan mengatakan, "Jika saya mencabut tiang pancang saat ini, butuh waktu 20 tahun bagi mereka untuk membangun kembali negara itu, dan kita belum selesai, kita lihat saja apa yang terjadi, saya pikir mereka sangat ingin membuat kesepakatan."

Kendati terus melontarkan retorika perang yang pongah, pemimpin Gedung Putih itu pada akhirnya harus menelan ludah sendiri dan mengakui bahwa perundingan damai dengan otoritas Teheran dapat dilanjutkan kembali di Pakistan.

Kepanikan Washington untuk segera mengakhiri perang melalui meja diplomasi ini sekaligus menjadi bukti sah bahwa blokade militer AS di Selat Hormuz hanyalah tameng rapuh untuk menutupi kelemahan operasional mereka.

Sikap tangguh Iran yang pantang menyerah dan sukses mengamankan kedaulatannya kini terbukti sukses memukul balik arogansi Amerika Serikat hingga memaksa musuhnya itu memohon jadwal negosiasi baru.

Load More