- Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan Major Defense Cooperation Partnership di Pentagon pada Senin, 13 April 2026.
- Kerja sama tersebut mencakup pengembangan teknologi pertahanan maritim, sistem otonom, kemampuan asimetris, dan pelatihan pasukan khusus gabungan.
- Pakar menuntut pemerintah menjelaskan keuntungan konkret serta dampak ekonomi bagi Indonesia dari perjanjian pertahanan strategis tersebut.
Suara.com - Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ali Maksum, menyoroti manfaat nyata dari kesepakatan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) melalui skema Major Defense Cooperation Partnership (MDCP).
Diketahui kesepakatan MDCP telah ditandatangani pada Senin (13/4/2026) lalu, saat Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon, Washington, D.C.
Perjanjian itu mencakup pengembangan teknologi pertahanan maritim, sistem otonom, kemampuan asimetris canggih, serta pelatihan pasukan khusus gabungan.
"Secara angka, dampak ekonominya memang belum bisa dilihat saat ini," ujar Ali dikutip, Minggu (19/4/2026).
Ali mendorong pemerintah untuk lebih transparan terkait imbalan konkret yang diterima Indonesia dari perjanjian strategis tersebut.
Dalam hal ini, ia menganalogikan pola kerja sama itu dengan hubungan antara Arab Saudi dan AS. Di sana, ada proteksi militer yang diberikan sebagai imbalan atas komitmen perdagangan energi.
Namun, pola serupa belum terlihat secara jelas dalam konteks Indonesia.
"Dalam kerja sama ini, pertanyaannya: apa imbalannya bagi Indonesia? Sejauh ini belum ada penjelasan yang konkret, apakah dalam bentuk insentif ekonomi atau kerja sama perdagangan," ujarnya.
Menurutnya pemerintah belum menyampaikan keuntungan nyata itu secara memadai kepada publik. Oleh sebab itu, kondisi ini perlu segera dibenahi agar masyarakat memahami posisi Indonesia dalam kesepakatan yang memiliki implikasi strategis jangka panjang.
Baca Juga: TB Hasanuddin Sentil Menhan dan Menlu Jarang Rapat di Komisi I: Kami Merasa Tertutup untuk Diskusi!
"Namun, saya yakin pasti ada, karena tidak mungkin dalam kerja sama sepenting ini tidak terdapat implikasi ekonomi," imbuhnya.
Terkait isu sensitif mengenai izin terbang bagi pesawat militer AS di ruang udara Indonesia, Ali menyebut hal tersebut sebagai konsekuensi yang lazim dalam setiap perjanjian pertahanan antarnegara.
"Dampak terhadap kedaulatan pasti ada. Namun, itu merupakan konsekuensi dari kerja sama pertahanan. Di berbagai negara seperti Arab Saudi, Korea Selatan, dan Jepang, hal serupa juga terjadi. Sebagai imbalannya, mereka memperoleh perlindungan atau jaminan keamanan," paparnya.
Hal yang kemudian menjadi pertanyaan krusial saat ini adalah apakah Indonesia akan turut memperoleh manfaat perlindungan yang setara.
"Tugas selanjutnya adalah bagaimana pemerintah memanfaatkan kerja sama pertahanan ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam setiap kerja sama internasional, pasti ada ruang yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan nasional," tandasnya.
Berita Terkait
-
TB Hasanuddin Sentil Menhan dan Menlu Jarang Rapat di Komisi I: Kami Merasa Tertutup untuk Diskusi!
-
Gebrakan Baru Donald Trump: Pentagon Bakal Buka-bukaan Soal Alien dan UFO
-
Kami Lapar! Suara Marinir AS di Tengah Perang Iran: Makanan Minim, Moral Prajurit Anjlok
-
Lebih Enak MBG? Penampakan Makanan Tak Layak Prajurit AS Saat Perang Lawan Iran
-
Pentagon Panaskan Mesin Perang, Negosiasi AS-Iran Terancam Kolaps
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
Kritik Kunjungan LN Prabowo, Mahfud MD: Terlalu Sering Itu Boros, Produknya Harus Jelas!
-
Detik-detik Wamen Imipas Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ajudan Dorong Awak Media
-
Silmy Karim Diburu KPK, Menteri Imipas Angkat Bicara
-
Megawati Bakal Terima Penghargaan dari Timor Leste, PDIP Jajaki Kerja Sama Strategis
-
Prabowo ke Petugas MBG: Tak Mau Bekerja Baik, Silakan Minggir!
-
Dadan Hindayana Ditahan, Irma Suryani Prihatin DPR Tak Punya Alat Sanksi untuk Mitra Kerja
-
Jabar Raih Penghargaan Terbaik Dalam Anugerah Kearsipan 2026, Bukti Hormati Setiap Jejak Sejarah
-
KPK Sita 7 Mobil hingga Emas dalam OTT Imigrasi Jakbar
-
KPK Ungkap Wamen Imigrasi Silmy Karim Diduga Terlibat Kasus Izin Tinggal WNA
-
Tolak Wacana Rusun, Korban Kebakaran Kemayoran Minta Pemerintah Bantu Bangun Rumah Lagi