-
Rusia berhasil mengevakuasi 600 staf ahli dari PLTN Bushehr karena perang di Iran.
-
Hanya 24 personel sukarelawan Rusia yang tersisa untuk memantau fasilitas nuklir strategis.
-
Eskalasi militer Israel dan AS memaksa Rosatom memprioritaskan keselamatan nyawa para pegawainya.
Langkah ini mencerminkan sikap hati-hati Moskow dalam melindungi aset sumber daya manusianya tanpa memutus total komitmen kontrak.
Ketegangan bersenjata yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah telah mengubah peta kerja sama energi atom internasional secara drastis.
Operasi militer gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari menjadi pemicu utama eksodus warga Rusia ini.
Serangan masif tersebut dilaporkan telah merenggut ribuan nyawa, termasuk figur pembuat kebijakan tertinggi di pemerintahan Iran.
Hancurnya stabilitas keamanan membuat pengerjaan unit pembangkit tambahan yang direncanakan sejak 2014 kini berada dalam ketidakpastian.
Padahal, Bushehr merupakan simbol kemitraan strategis yang telah dirintis Rusia dan Iran sejak penandatanganan kontrak tahun 1995.
Respon Balasan Iran dan Gejolak Regional
Pemerintah Iran tidak tinggal diam dan memberikan reaksi keras melalui serangkaian serangan drone serta rudal ke berbagai arah.
Target serangan balasan tersebut menyasar wilayah Israel serta negara-negara tetangga yang dianggap mendukung pangkalan militer Amerika Serikat.
Baca Juga: China Kasih Paham Dampak Paling Buruk Konflik di Selat Hormuz Berkepanjangan
Blokade di Selat Hormuz yang dilakukan oleh militer Iran turut menambah beban ekonomi dan logistik di jalur perdagangan dunia.
Kondisi jalur laut yang terjepit mempersulit pengiriman pasokan teknis yang dibutuhkan untuk perawatan rutin reaktor nuklir Bushehr.
Situasi ini memaksa Rusia untuk memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis dan fisik para pekerja yang baru saja keluar dari zona perang.
PLTN Bushehr adalah fasilitas energi nuklir pertama di Iran yang pembangunannya melibatkan teknologi canggih dari Rusia sejak dekade sembilan puluhan.
Proyek ini mulai menyuplai listrik ke jaringan nasional Iran pada tahun 2011 setelah melewati berbagai rintangan politik dan teknis internasional.
Rusia dan Iran kemudian memperluas kerja sama dengan kesepakatan pembangunan dua reaktor baru untuk meningkatkan kapasitas energi nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Sah! DPR Ketok Palu UU PPRT di Hari Kartini, Jutaan Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Payung Hukum
-
Lebanon Pilih Negosiasi dengan Israel, Presiden Joseph Aoun Ungkap 3 Tujuan Utama
-
Kejam! Suami di India Masukkan Benda ke Rahim Istri, Korban Kritis di Rumah Sakit
-
Penembakan Massal di Piramida Teotihuacan, Turis Kanada Tewas Mengenaskan
-
Arab Saudi Sebut Konflik Timur Tengah Ancam Energi Global dan Stabilitas Ekonomi
-
Tunjuk Suhud Alynudin, Fraksi PKS Jelaskan Alasan Pergantian Kursi Ketua DPRD DKI Jakarta
-
KPK: 25 Persen Kasus Korupsi Berkaitan dengan Pengadaan Barang dan Jasa
-
Xi Jinping Tekankan Normalisasi Selat Hormuz Jadi Prioritas Global
-
UU PPRT Sah Setelah 22 Tahun, PKB: Jangan Sampai Jadi Macan Kertas!
-
Detik-detik Penangkapan Komplotan Curanmor di Cikupa: Senpi Rakitan dan Peluru Tajam Disita