-
Iran menolak berunding dengan Amerika Serikat selama ancaman blokade ekonomi masih diberlakukan.
-
Donald Trump mengklaim blokade tersebut merugikan ekonomi Iran sebesar $500 juta per hari.
-
Teheran menyiapkan strategi militer baru sebagai respon atas pelanggaran gencatan senjata oleh AS.
Suara.com - Pemerintah Iran secara resmi menyatakan penolakan mutlak untuk melakukan perundingan dengan Amerika Serikat selama intimidasi dan ancaman militer masih berlangsung.
Sikap keras ini muncul sebagai respon terhadap upaya Washington yang dinilai memaksakan kehendak melalui instrumen ekonomi dan militer di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari DW, Teheran menegaskan bahwa kedaulatan nasional tidak dapat ditukar dengan pelonggaran sanksi yang bersifat diskriminatif dan sepihak.
Langkah ini menandai babak baru kebuntuan diplomasi antara kedua negara yang telah berlangsung selama beberapa dekade terakhir.
Eskalasi ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan politik di kawasan seiring dengan persiapan militer Iran yang kian intensif.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator tingkat tinggi, Mohammad Bagher Qalibaf, memberikan peringatan serius mengenai posisi tawar negaranya saat ini.
Ia menekankan bahwa Teheran tidak akan membiarkan martabat bangsanya diinjak-injak melalui mekanisme meja perundingan yang tidak adil.
"Donald Trump berusaha mengubah meja perundingan menjadi 'meja penyerahan'," tegas Qalibaf melalui pernyataan resminya di media sosial X.
Qalibaf mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu dua minggu terakhir, militer Iran telah menyusun skema kekuatan baru yang siap ditunjukkan.
Baca Juga: Panas di Selat Hormuz, Iran Temui Rusia, Apa Hasilnya?
"Dalam dua minggu terakhir Iran telah bersiap untuk menunjukkan kartu-kartu baru di medan tempur," tambah Qalibaf memperingatkan pihak lawan.
Diplomasi yang Terhambat Pelanggaran
Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya mengonfirmasi bahwa saat ini tidak ada agenda untuk melakukan dialog lanjutan dengan pihak Amerika.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah melakukan koordinasi intensif dengan mitra internasionalnya untuk membahas situasi keamanan terkini.
Dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, Araqchi menyoroti hambatan utama yang merusak proses perdamaian global.
"Pelanggaran [AS] yang terus berlanjut terhadap gencatan senjata antara kedua negara adalah hambatan utama untuk melanjutkan proses diplomatik guna menyelesaikan konflik saat ini," ujar Araqchi kepada Dar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan