-
Amerika Serikat mengerahkan tiga kapal induk ke Timur Tengah guna menekan posisi tawar Iran.
-
Presiden Donald Trump menolak memberikan tenggat waktu pasti mengenai berakhirnya konflik bersenjata tersebut.
-
Kehadiran jet tempur F-35 pada armada terbaru meningkatkan kesiapan tempur Amerika di kawasan.
Suara.com - Militer Amerika Serikat secara resmi menambah kekuatan tempurnya dengan mengirimkan kapal induk ketiga ke wilayah Timur Tengah.
Langkah strategis ini menandai konsentrasi armada laut terbesar Washington di kawasan tersebut dalam dua dekade terakhir.
Dikutip dari CNN, penempatan alutsista raksasa ini bertepatan dengan sikap keras Gedung Putih mengenai kepastian durasi konflik yang sedang berlangsung.
Presiden Donald Trump memilih untuk tetap merahasiakan target waktu berakhirnya konfrontasi bersenjata dengan pihak Iran.
"Jangan desak saya," tegas Trump kepada awak media di Gedung Putih saat ditanya mengenai jadwal penghentian perang.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa USS George HW Bush kini telah memasuki area tanggung jawab operasional mereka.
Kapal kelas Nimitz yang diluncurkan pada 2009 ini merupakan unit terbaru dari sepuluh kapal induk sejenis milik Amerika.
Dengan bobot melampaui 100.000 ton, monster laut ini sanggup mengangkut lebih dari 80 pesawat tempur canggih.
Fasilitas tempur ini digerakkan oleh dua reaktor nuklir serta diawaki oleh sedikitnya 5.500 personel angkatan laut.
Baca Juga: Pakistan Lagi, Kenapa Indonesia Bukan Pilihan Iran untuk Perundingan Kedua dengan AS?
Meskipun kehadirannya sangat mencolok, rincian pergerakan taktis kapal ini tetap dirahasiakan demi keamanan operasional prajurit.
Kehadiran fisik kapal induk ini dinilai memiliki bobot politik yang sangat besar bahkan sebelum satu peluru pun ditembakkan.
Analis militer memandang ini sebagai upaya intimidasi psikologis agar Teheran segera melunak dalam meja perundingan damai.
"Hanya potensi keterlibatan kapal induk ketiga saja sudah menambah tekanan yang dihadapi rezim (Iran) saat pembicaraan damai mendekat," ungkap Carl Schuster, pensiunan kapten Angkatan Laut AS.
Schuster menilai manuver ini adalah pesan nyata bahwa Trump siap meningkatkan eskalasi jika negosiasi tidak berjalan sesuai rencana.
"Pesannya adalah bahwa Trump dapat memberikan lebih banyak tekanan jika pembicaraan damai tidak berjalan sesuai keinginan Trump. Citra politik sama, dan mungkin lebih penting, daripada tindakan militer," tambah Schuster.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Misi Militer Penuh Ironi: Teknisi AS Dicakar Monyet Saat Menuju Medan Konflik Selat Hormuz
-
Benjamin Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Prostat Diam-diam
-
Mahasiswa Doktoral USF Tewas Misterius, Diduga Dibunuh Teman Sekamar
-
Penasihat Hukum Nadiem Mangkir dari Sidang, Pengamat: Bisa Dikategorikan Contempt of Court
-
8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir
-
Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun
-
Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi
-
Kawat Berduri Blokade Anak-anak Palestina Sekolah ke Tepi Barat
-
Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon
-
Bangun Iklim Kompetitif, Mendagri: Ajang Penghargaan Pemda Pacu Kinerja Kepala Daerah