-
Hantavirus di kapal MV Hondius dipastikan memiliki risiko penularan publik yang sangat rendah.
-
Pakar menegaskan hantavirus jauh lebih sulit menyebar dibanding COVID-19 karena membutuhkan kontak fisik.
-
Masa inkubasi yang panjang hingga enam minggu membantu petugas medis mengontrol penyebaran wabah.
Suara.com - Ledakan kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius dipastikan tidak akan memicu pandemi global layaknya krisis kesehatan tahun 2020. Para ahli infeksi menegaskan karakteristik virus ini sangat berbeda secara fundamental sehingga resiko bagi masyarakat luas sangat minim.
Kemunculan virus yang dibawa hewan pengerat ini memang sempat memicu trauma kolektif terhadap masa awal pandemi virus corona. Namun, otoritas kesehatan internasional melihat pola penyebaran hantavirus jauh lebih terkendali dan sulit melompat antarmanusia secara masif.
"Ini bukan COVID yang lain," ujar Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada CBS.
Saat ditanya mengenai pesannya untuk warga Amerika yang khawatir, ia mengatakan, "Berdasarkan penilaian ilmiah dan berdasarkan bukti... risikonya rendah. Jadi mereka tidak seharusnya— mereka tidak seharusnya khawatir."
Kematian tiga penumpang dalam sepuluh kasus terkonfirmasi menjadi dasar kewaspadaan ketat bagi 18 warga Amerika yang baru saja dipulangkan. Meski fatalitasnya tinggi, struktur biologis hantavirus menghambat kemampuannya untuk menyebar secepat kilat di ruang publik terbuka.
Analogi "kayu basah di perapian batu" digunakan untuk menggambarkan betapa sulitnya hantavirus ini untuk mengobarkan "api" pandemi yang luas. Berbeda dengan COVID-19 yang mudah terbakar bak hutan kering, hantavirus membutuhkan kondisi yang sangat spesifik untuk tetap aktif.
Spesialis penyakit menular Dr. Céline Gounder menyamakan kondisi awal COVID-19 dengan hutan kering yang diterjang angin kencang dan tanpa hujan. Ia menjelaskan bahwa spesialis penyakit menular, layaknya kepala pemadam kebakaran, sudah sangat mengenali perilaku virus jenis ini sebelumnya.
"Ini tidak menular seperti cara COVID dulu, atau sekarang. Masa inkubasinya berbeda, dan itu sebenarnya membantu kami dalam mengendalikannya," kata Gounder.
"Hantavirus menginfeksi jauh di dalam paru-paru, bukan saluran pernapasan atas, sehingga jauh lebih sulit untuk dibatukkan atau diembuskan keluar ke udara dalam jumlah virus yang cukup agar mudah menular," tambahnya.
Baca Juga: Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
Pengetahuan medis selama puluhan tahun tentang virus ini memberikan keunggulan bagi para ilmuwan dibandingkan saat menghadapi SARS-CoV-2 yang baru muncul. Pemahaman ini memungkinkan deteksi dan isolasi dilakukan dengan protokol yang jauh lebih presisi dan efektif sejak dini.
Strain virus Andes yang ditemukan di Amerika Selatan merupakan satu-satunya varian hantavirus yang tercatat mampu berpindah antarmanusia. Penularannya memerlukan interaksi fisik yang sangat lama dan dekat, bukan sekadar berada di ruangan yang sama secara singkat.
Jejak infeksi diduga berasal dari perjalanan sepasang suami istri di wilayah daratan sebelum mereka menaiki kapal pesiar di Argentina. Tragedi ini menonjol karena sang suami wafat beberapa pekan lebih awal dibandingkan istrinya yang menyusul kemudian.
"Ini bukan COVID. Ini bukan influenza. Ini menyebar dengan cara yang sangat, sangat berbeda," kata Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO.
"Saya ingin bersikap tegas di sini," lanjutnya.
"Ini bukan SARS-CoV-2 [virus yang menyebabkan COVID]. Ini bukan awal dari pandemi COVID. Ini adalah wabah yang kita lihat di sebuah kapal. Ini adalah area yang terbatas."
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
Terkini
-
Heboh Fenomena Tentara Korsel: Latihan Militer No, Operasi Plastik Yes
-
Tim Advokasi Khawatir Ada Upaya Damai dalam Kasus Tragis PRT Benhil
-
Ketakutan Penjaga Perlintasan Rel Liar Usai Tragedi Bekasi: Kami Juga Tak Mau Celakakan Orang!
-
Nadiem Jadi Tahanan Rumah, Kejagung Siapkan Pengawasan 24 Jam dan Gelang Elektronik
-
Targetkan 500 Ribu Lulusan SMK Kerja di LN, Cak Imin Prioritaskan Siswa dari Keluarga Miskin
-
23 Selamat, 14 Hilang! Drama Mencekam Pekerja Migran Indonesia di Laut Malaysia
-
Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Gas Jerman, Ancaman Krisis Energi Menghantui Warga Eropa
-
Melanggar Perda, Satpol PP DKI Siap Sikat Lapak Hewan Kurban di Trotoar
-
NHM Kerahkan Tim Darurat, Seluruh Korban Erupsi Gunung Dukono Berhasil Dievakuasi
-
Jejak Alumni Kamboja di Hayam Wuruk: Mengapa Jakarta Dipilih Jadi Basis Judol?