News / Nasional
Selasa, 12 Mei 2026 | 21:36 WIB
Mantan Direktur Intelijen BAIS TNI Brigjen (Purn) Purnomo. [YouTube]
Baca 10 detik
  • Eskalasi konflik Timur Tengah dan kebijakan luar negeri Indonesia berpotensi memicu ketegangan diplomatik dengan China di kawasan strategis.
  • Purnomo menilai rencana kerja sama militer Indonesia dengan Amerika Serikat dapat menggeser posisi netral menjadi keberpihakan geopolitik global.
  • Indonesia harus menjaga prinsip bebas aktif agar tidak terjebak dalam perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan China.

Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus meningkat dinilai berpotensi memengaruhi arah politik luar negeri Indonesia, terutama dalam posisi di tengah persaingan Amerika Serikat dan China.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menolak kesepakatan gencatan senjata dengan Iran di tengah situasi kawasan yang belum stabil.

Di sisi lain, laporan Al Jazeera menyebut Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap pemukim Israel serta sejumlah tokoh Hamas, yang memperpanjang kompleksitas konflik di kawasan tersebut.

Menanggapi situasi itu, mantan Direktur Intelijen BAIS TNI Brigjen (Purn) Purnomo menilai dinamika Timur Tengah tidak lagi sekadar konflik regional, tetapi telah masuk ke ranah geopolitik global yang berdampak pada Indonesia.

Ia menyoroti sejumlah kebijakan luar negeri Indonesia, termasuk rencana keterlibatan dalam Board of Peace dan persetujuan Agreement on Reciprocal Trade (ART), yang menurutnya dapat dipersepsikan sebagai kedekatan dengan kebijakan Amerika Serikat di bawah Donald Trump.

Bagi Purnomo, kondisi tersebut berpotensi memicu ketegangan baru dalam relasi Indonesia dengan China, terutama di kawasan strategis seperti Laut China Selatan yang berdekatan dengan Selat Malaka.

Kebijakan baru akses udara militer AS di Indonesia berpotensi mengubah peta kekuatan maritim kawasan Asia. (Eurasiareview)

Salah satu yang ia soroti adalah wacana atau izin lintas wilayah udara yang sebelumnya mengemuka pada April 2026.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono kala itu menyebut perlunya kajian lebih lanjut sebelum keputusan diambil.

Menurut Purnomo, kebijakan semacam itu memiliki implikasi geopolitik yang tidak sederhana.

Baca Juga: Pakar Sebut Parpol Pamer Kesetiaan ke Prabowo Cuma Kedok: Haus Kekuasaan Demi Modal Finansial

"Bukan negara netral. Ada keberpihakan, kan," ujarnya dalam podcast Forum Keadilan TV, dikutip Selasa (12/5/2026).

Ia menggambarkan Indonesia berpotensi menjadi “medan silang kepentingan” kekuatan besar dunia, jika tidak menjaga posisi secara hati-hati.

Dengan menggunakan analogi Padang Kurusetra, Purnomo menyebut Indonesia bisa saja menjadi arena perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan China.

Ia juga menyinggung pengalaman konflik di kawasan lain sebagai peringatan, seperti Ukraina, Palestina, hingga Iran, yang menurutnya menunjukkan pola keterlibatan kekuatan besar dalam berbagai konflik regional.

"Negara besar itu tidak akan pernah mau negaranya menjadi tempat perang," ujarnya.

Lebih jauh, Purnomo menilai bahwa kepentingan strategis Amerika Serikat di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah dan Amerika Latin, kerap berkaitan dengan penguasaan sumber daya alam, terutama energi seperti minyak.

Load More