- Gus Lilur mendesak pemerintah agar kebijakan konversi energi LPG ke CNG menjadi momentum keadilan bagi masyarakat Madura.
- Selama ini Madura menjadi sumber gas utama untuk industri Jawa Timur, namun manfaat ekonominya belum dirasakan masyarakat lokal.
- Pemerintah pusat diminta melibatkan BUMD, koperasi, dan pengusaha lokal dalam pengelolaan ekosistem CNG agar kesejahteraan rakyat Madura meningkat.
“Jika pemerintah membangun mother station atau induk stasiun CNG, maka Madura harus menjadi salah satu pusatnya. Jangan semuanya dikuasai pihak luar,” ujarnya.
Menurut Gus Lilur, mother station CNG merupakan jantung distribusi energi masa depan. Dari fasilitas itu, gas bumi akan dikompresi lalu disalurkan ke rumah tangga, UMKM, pesantren, transportasi, hingga pusat ekonomi masyarakat.
Ia mengingatkan pemerintah agar konversi energi kedua Indonesia tidak mengulang pola lama, yakni daerah penghasil hanya menjadi pemasok bahan mentah sementara nilai tambah dinikmati kelompok besar di luar daerah.
“Konversi LPG ke CNG jangan sampai hanya melahirkan ketimpangan baru. Rakyat tetap jadi konsumen, daerah penghasil tetap jadi penonton,” katanya.
Gus Lilur juga memperkenalkan konsep AMPERA atau Amanat Penderitaan Rakyat Madura. Menurutnya, AMPERA merupakan seruan agar negara hadir sebagai penjamin keadilan distribusi manfaat sumber daya alam.
“Negara harus memastikan gas Madura tidak lagi menjadi cerita tentang pulau kaya yang rakyatnya tetap miskin,” ujarnya.
Ia menambahkan, konversi energi kedua ini berbeda dengan konversi minyak tanah ke LPG pada masa lalu.
Jika dulu Indonesia masih bergantung pada impor LPG, maka CNG dinilai lebih menjanjikan karena bersumber dari gas bumi domestik.
“Jika dijalankan dengan benar, negara bisa menghemat devisa, subsidi ditekan, dan masyarakat memperoleh energi lebih murah. Tetapi daerah penghasil seperti Madura juga harus ikut menikmati manfaatnya,” pungkas Gus Lilur.
Baca Juga: Perhatian! CNG Bukan Pengganti LPG 3 KG
Tag
Berita Terkait
-
Perhatian! CNG Bukan Pengganti LPG 3 KG
-
Krisis LPG di NTT, Sejumlah SPPG Hentikan Operasi Sementara
-
Siap-siap! Harga BBM, LPG, hingga LNG Kompak Melejit, Ini Pemicunya
-
Bos Barong Grup: Rokok Ilegal Jangan Cuma Ditindak, Ajak Masuk Jalur Legal
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Warga Kepulauan Seribu Ingin Transportasi Laut Murah, Transjakarta Siap Ambil Alih
-
IHSG Masih Bertengger di Level 6.500 Pagi Ini, Pantau BBNI
-
Lulusan Terbaik Undip Antre Jadi Buruh: Saat Ijazah Sarjana Tak Lagi Menjamin Pekerjaan
-
Lewat Skema Transfer, Kendal Tornado FC Datangkan Fikron Afriyanto dari Persijap
-
Gubernur Khofifah Dorong Trauma Healing Berkelanjutan di Lokasi Pengungsian Pascagempa NTT
-
Emas Antam Melambung Tinggi, Harganya Rp2,75 Juta/Gram
-
Presiden Prabowo Dikabarkan Bakal ke Riau Tinjau Karhutla di Kampar
-
Masjid Auliya Setono Gedong, Jejak Islam dan Daha di Tengah Kediri Kota
-
Waduk Jatigede Surut, Warga Sumedang Manfaatkan Lahan untuk Bertani
-
Tak Lagi Pakai Cara Tradisional, Petani Didorong Gunakan Teknologi hingga Mekanisasi