News / Nasional
Kamis, 21 Mei 2026 | 15:34 WIB
Spanduk bertuliskan 'Surat Permohonan Maaf' terpasang di gerbang masuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (21/5/2026). [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Spanduk berisi kritik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran terpasang di gerbang masuk kampus UGM, Sleman, pada Kamis, 21 Mei 2026.
  • Pihak UGM menegaskan pemasangan spanduk mencatut identitas kampus dan tidak merepresentasikan sikap resmi universitas sehingga segera diturunkan.
  • BEM UGM menyatakan spanduk tersebut merupakan bentuk keresahan mahasiswa akar rumput terkait kondisi ekonomi serta ketidakpastian kepemimpinan nasional.

Sheron menyebut keresahan itu berkaitan dengan situasi ekonomi dan ketidakpastian yang dirasakan masyarakat belakangan ini. Menurutnya, kondisi tersebut turut berdampak pada kehidupan mahasiswa dan masyarakat luas.

"Dalam konteks ini, semua masyarakat Indonesia sedang mengalami ketidakpastian yang berat di masa kepemimpinan Pak Prabowo, terutama jika melihat kondisi ekonomi belakangan ini," ujarnya.

Menurut Sheron, kampus seharusnya menjadi ruang yang terbuka bagi kebebasan berekspresi sivitas akademika. Ia berharap ruang akademik tetap memberi tempat bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan kegelisahan sosial.

"Kampus sebagai ruang hidup kaum akademis, selayaknya dan sepantasnya dibebaskan dalam berekspresi," ucapnya.

Ia menegaskan bahwa keberadaan spanduk hanya merupakan simbol dari gerakan yang lebih besar. Menurut dia, pencopotan spanduk tidak akan menghentikan aspirasi mahasiswa yang ingin terus menyuarakan keresahan mereka.

"Spanduk sudah menjalankan fungsinya sebagai simbol, yang utama adalah amplifikasi gerakan ini. Spanduk bisa saja dibakar diturunkan tapi semangat bergerak itu jadi point utamanya," tandasnya.

Load More