News / Internasional
Senin, 25 Mei 2026 | 09:49 WIB
Sebuah gedung tampak hancur usai dihantam roket yang dilepaskan tentara Rusia di wilayah timur Ukraina, Kamis (24/2/2022). (Foto: AFP)
Baca 10 detik
  • Rusia menembakkan rudal hipersonik Oreshnik ke Kyiv dalam serangan massal yang menewaskan empat orang.
  • Pemimpin Uni Eropa, Prancis, dan Jerman mengecam keras penggunaan rudal berkemampuan nuklir tersebut.
  • Putin mengklaim serangan itu adalah balasan atas hantaman drone Ukraina di asrama Starobilsk.

Suara.com - Rusia mengerahkan rudal hipersonik Oreshnik dalam salah satu gempuran terbesar di wilayah Kyiv Ukraina sejak awal perang. Serangan udara masif ini dilaporkan telah merenggut sedikitnya empat nyawa warga sipil.

Persenjataan mutakhir tersebut dikategorikan sebagai rudal jarak menengah oleh Amerika Serikat yang mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir. Kecepatan tinggi dan lintasan Oreshnik membuatnya hampir mustahil dicegat oleh sistem pertahanan udara yang dimiliki Ukraina saat ini.

Kehadiran proyektil ini memicu alarm bahaya global karena menjadi kali ketiga Rusia menggunakannya dalam konflik. Ketajaman teknologi pertahanan udara Kyiv kini diuji melampaui batas maksimumnya akibat hantaman senjata pemusnah tersebut.

Rusia dan Iran koordinasi amankan jalur laut dan gencatan senjata di tengah krisis Timur Tengah. (Gemini AI)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa proyektil mematikan itu jatuh di dekat kota Bila Tserkva di Ukraina tengah. Merespons kebrutalan tersebut, Zelensky melayangkan kecaman keras terhadap tindakan Moskow.

"Mereka benar-benar kehilangan akal sehat. Sangat penting agar hal ini tidak dibiarkan begitu saja tanpa hukuman bagi Rusia," ujar Zelensky dikutip dari CNN, Senin (25/5/2026).

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menambahkan informasi bahwa rudal yang ditembakkan kali ini membawa hulu ledak tiruan. Meski demikian, Sybiha menyebut operasi militer subuh tersebut sebagai salah satu gempuran terbesar yang pernah menyasar ibu kota.

Rudal BrahMos buatan kolaborasi perusahaan raksasa militer India dan Rusia. (MissileThreat)

Langkah Moskow ini dinilai sebagai gertakan politik yang sangat berbahaya oleh Uni Eropa. Penggunaan teknologi yang dirancang untuk senjata pemusnah massal dianggap telah melanggar batas diplomasi waras.

Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan keprihatinan mendalam melalui sebuah unggahan di platform X.

"Moskow dilaporkan menggunakan rudal balistik jarak menengah Oreshnik – sistem yang dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir – adalah taktik menakut-nakuti politik dan diplomasi tepi jurang nuklir yang sembrono," kata Kallas.

Baca Juga: Usai Bertemu Trump, Xi Jinping Langsung Gelar Pertemuan Strategis dengan Putin

Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mengutuk keras serangan malam tersebut melalui media sosial. Macron menilai manuver terbaru Moskow menunjukkan tanda-tanda perluasan konflik yang semakin agresif.

Menurut Macron, penggunaan Oreshnik menandakan sebuah "eskalasi" dalam "perang agresi Rusia."

Sikap serupa ditunjukkan oleh Jerman yang menegaskan komitmen mereka untuk terus mendukung kedaulatan Kyiv. Berlin melihat tindakan ini sebagai bentuk provokasi serius yang mengancam stabilitas kawasan Eropa.

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan penggunaan Oreshnik oleh Rusia adalah "eskalasi yang sembrono", dan menegaskan kembali janji Jerman untuk "berdiri teguh di sisi Ukraina".

Berdasarkan data Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan total 600 drone dan 90 rudal dalam satu malam. Dari jumlah masif tersebut, pertahanan udara Ukraina berhasil merontokkan 604 senjata penyerang.

Kendati demikian, gempuran beruntun ini tetap menyisakan kerusakan parah di pusat kota. Kyiv menjadi titik episentrum yang menerima dampak paling merusak dari operasi udara tersebut.

Load More