- Wabah Ebola di DRC menyebar cepat ke area perkotaan akibat misinformasi dan penolakan protokol kesehatan.
- Konflik bersenjata, pengungsian massal, dan pemotongan dana internasional memperlambat respons medis di lapangan.
- WHO menaikkan status risiko ke tingkat sangat tinggi sementara pengembangan vaksin diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.
Langkah tegas ini diambil karena tradisi menyentuh jenazah dalam prosesi pemakaman lokal terbukti mempercepat replikasi virus secara masif. Jenazah korban Ebola diketahui memiliki tingkat infeksi yang sangat tinggi bagi siapa pun yang bersentuhan.
“Membangun kepercayaan di komunitas yang terdampak sangat penting untuk keberhasilan respons, dan merupakan salah satu prioritas tertinggi kami,” tegas Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Setelah insiden kebakaran tersebut, pihak WHO menegaskan komitmennya untuk menjaga kelangsungan layanan kesehatan primer di wilayah konflik. Hingga kini, visualisasi data menunjukkan situasi yang terus memburuk dengan ratusan korban jiwa.
Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui media sosialnya mengonfirmasi eskalasi status bahaya medis ini. Deteksi dini yang terlambat membuat proyeksi kurva epidemiologi diprediksi akan terus mengalami kenaikan.
“Lebih dari 900 kasus suspek telah diidentifikasi sejauh ini, termasuk 101 kasus konfirmasi,” ungkapnya.
WHO sebelumnya menyatakan sedikitnya 177 kematian kini diduga kuat berkaitan dengan ledakan wabah Ebola di DRC. Penularan yang bermula dari area rural kini telah menginvasi pusat kota padat penduduk seperti Bunia dan Goma.
Eskalasi ini membuat WHO menaikkan level risiko menjadi "sangat tinggi" di tingkat nasional DRC dan "tinggi" pada skala regional. Meski demikian, ancaman global dinilai masih berada pada kategori rendah untuk saat ini.
Di sisi lain, respons darurat terhambat oleh kebijakan pemotongan anggaran bantuan internasional yang dilakukan oleh Amerika Serikat sebelumnya. Pengurangan pendanaan dari USAID disebut-sebut melemahkan kesiapan logistik di garda depan.
Meskipun demikian, pejabat Departemen Luar Negeri AS membantah klaim tersebut secara sepihak. Mereka menyatakan perubahan kebijakan pemerintahan tidak memengaruhi efektivitas penanggulangan wabah di Afrika.
Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo Darurat Internasional, Risiko Kematian 32,5 Persen
Direktur Save the Children untuk DRC, Greg Ramm, menyatakan lembaganya bergerak cepat mendistribusikan disinfektan dan klorin ke klinik-klinik lokal. Pendanaan kemanusiaan saat ini jauh menyusut dibanding periode beberapa tahun lalu.
“Kami sedang dalam permainan mengejar ketertinggalan. Sumber daya kesehatan tidak mencukupi,” jelas Ramm. “Ini tentang menerapkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi dasar ke pusat-pusat kesehatan.”
Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas operasional puskesmas agar warga tidak takut mencari pertolongan medis. Jika sistem kesehatan kolaps, risiko kematian akibat penyakit endemik lain seperti malaria justru akan melonjak jauh lebih tinggi.
“Tujuannya adalah menjaga agar pusat kesehatan tetap berfungsi untuk mendorong orang yang sakit Ebola atau penyakit lain mendapatkan bantuan,” cetusnya. “Hal terakhir yang kita butuhkan saat ini adalah sistem kesehatan yang berhenti beroperasi.”
Guna memutus rantai penularan, para praktisi medis di lapangan terus mengampanyekan pembatasan kontak fisik secara radikal. Edukasi intensif difokuskan pada penghentian budaya bersalaman dan interaksi dengan satwa liar.
“Setiap orang harus mengadopsi sikap preventif untuk memutus rantai infeksi ini,” imbau Dr. Mwarabu Hugue.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Dasco Pimpin Rakor Tingkat Tinggi, Kebut Pembangunan 39 Ribu Huntap untuk Korban Bencana Sumatera
-
Prabowo Dorong Energi dari Limbah Jagung dan Sawit, Pakar Ingatkan Keseimbangan Pangan
-
DPR dan Pemerintah Gelar Rapat Koordinasi, Fokus Percepat Pemulihan Pascabencana Sumatera
-
Persib Bandung Diharapkan Wagub Mampu Mendulang Prestasi di Level Internasional
-
Bukan Larang Berdagang, Satpol PP DKI Jelaskan Aturan Zona Steril di Bundaran HI
-
Menguatnya Dukungan Internasional Untuk Proposal Indonesia Tentang Tata Kelola Royalti Digital
-
Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun
-
Polri Pastikan Blackout di Sumatera Bukan Sabotase, Ini Penyebab Aslinya
-
Misteri Matematika 80 Tahun Terpecahkan! OpenAI Selesaikan Soal Geometri Paling Sulit di Dunia
-
Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?