- Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap 90 target militer di Iran selama dua hari berturut-turut untuk melindungi jalur pelayaran.
- Serangan tersebut menewaskan 14 orang dan memicu balasan militer dari pihak Iran terhadap aset Amerika Serikat di kawasan Teluk.
- Konflik ini mengancam proses perdamaian serta mengganggu aktivitas perdagangan minyak dunia di wilayah vital Selat Hormuz secara signifikan.
Suara.com - Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran untuk malam kedua berturut-turut.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran bahwa proses perdamaian antara kedua negara berada di ambang kegagalan.
Serangan terbaru menghantam sejumlah wilayah di Teheran pada Kamis dini hari.
Sebelumnya, AS juga menyerang kota-kota di selatan Iran, dengan total sekitar 90 target militer disasar.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi ini bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Serangan dilakukan untuk melindungi kapal komersial dan pelaut sipil,” demikian pernyataan resmi mereka.
Dalam dua hari terakhir, sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas, termasuk anggota Garda Revolusi Iran.
Sejumlah fasilitas sipil juga disebut terdampak, meski belum seluruhnya terverifikasi.
Iran tidak tinggal diam. Teheran melancarkan serangan balasan ke aset militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Baca Juga: Tuduh AS Langgar MoU Islamabad, Iran: Ingkar Janji Ada Konsekuensinya
Sirene peringatan terdengar di beberapa negara tersebut.
Sistem pertahanan udara dilaporkan berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone yang diluncurkan Iran.
Eskalasi ini terjadi setelah insiden penyerangan kapal komersial di Selat Hormuz awal pekan ini.
Jalur vital perdagangan minyak dunia itu kini mengalami gangguan serius, dengan lalu lintas kapal menurun drastis.
Di tengah ketegangan, pernyataan Presiden AS Donald Trump semakin menambah ketidakpastian.
Trump menyebut kesepakatan awal dengan Iran sudah berakhir, meski masih membuka peluang negosiasi.
Berita Terkait
-
Tuduh AS Langgar MoU Islamabad, Iran: Ingkar Janji Ada Konsekuensinya
-
Balas Kematian Warga Sipil, Iran Serang Fasilitas Militer AS di Dua Negara Teluk
-
Trump Sebut Kesepakatan Gencatan Senjata Selesai, AS dan Iran Kembali Berperang
-
Rupiah Paling Lemah di Asia Lawan Dolar AS ke Level Rp18.058
-
Usai Hadiri Pemakaman Khamenei, Delegasi Indonesia Dijadwalkan Bertemu Pejabat Iran
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
Terkini
-
Gugat Dosa Struktural Negara, FIAD Nyatakan Indonesia Darurat Keadilan
-
Hadir di Coinfest Asia 2026, COIN Tegaskan Komitmen Bangun Ekosistem Aset Digital Tepercaya
-
Terima Audiensi Masyarakat Pati yang Tolak Demo, DPR: Tak Harus Selalu Turun ke Jalan
-
Meski Tidak Ditandatangani Direktur Penyidikan, Surat Penahanan Febrie Adriansyah Tetap Sah
-
Tim Hukum Febrie Adriansyah Sebut Sangkaan Kejagung 'Imajinatif', Dasar Hukumnya Dipertanyakan
-
Naskah Kuno hingga Keris Pusaka Ludes di Desa Adat Sade, Pemerintah Siapkan Rencana Pemulihan Total
-
6 Cara Meratakan Warna Kulit Tangan Belang akibat Naik Motor dengan Body Sunscreen
-
Bukan Water Bombing! Prabowo Dorong 'Ubi Bombing' dari Singkong untuk Atasi Karhutla
-
Karhutla Meluas di Kalbar, Wamen LH Minta Korporasi Perkuat Sekat Kanal: Apa Itu?
-
Mengapa Satwa Endemik Indonesia Tak Bernasib seperti Panda China?