- Peneliti Muhamad Haripin menyatakan demokrasi Indonesia mengalami kemunduran serius dalam satu dekade terakhir di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
- Reformasi militer pasca-1998 kini terancam oleh fenomena repolitisasi yang memicu kekhawatiran terhadap peran institusi pertahanan di ruang sipil.
- Haripin mendesak pemerintah segera mengembalikan orientasi militer agar kembali fokus pada profesionalisme pertahanan negara sesuai semangat awal reformasi.
Suara.com - Peneliti pertahanan Muhamad Haripin menilai kondisi demokrasi Indonesia dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Ia menyebut kemunduran demokrasi tidak hanya terjadi di ranah politik, tetapi juga merambah sektor keamanan, termasuk institusi militer.
Pernyataan itu disampaikan Haripin saat memberikan keterangan sebagai ahli dalam sidang uji materi UU TNI Nomor 3 Tahun 2025 untuk perkara Nomor 197/PUU-XXIII/2025 dan 238/PUU-XXIII/2025 di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).
“Situasi Indonesia selama satu dekade belakangan ini menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan di mana terjadi fenomena yang disebut para ahli sebagai kemunduran demokrasi atau democratic backsliding,” ungkap Haripin.
“Kemunduran tersebut, jika mungkin kita sungkan untuk menyebutnya sebagai suatu kemerosotan kronis, terjadi juga pada sektor keamanan Indonesia, termasuk di institusi militer,” imbuhnya.
Haripin menjelaskan, reformasi militer yang dimulai pasca-1998 pada awalnya diarahkan untuk melakukan depolitisasi militer.
Langkah tersebut bertujuan mengakhiri praktik dwifungsi ABRI dan menempatkan militer kembali pada fungsi pertahanan negara.
Namun, pada awal dekade 2010-an muncul fase yang ia sebut sebagai remiliterisasi.
Dalam konteks ini, remiliterisasi dimaknai sebagai upaya membangun institusi militer yang profesional, terlatih, dan memiliki kemampuan pertahanan yang kuat.
Baca Juga: Setahun Putusan Sekolah Gratis Mangkrak, JPPI Sebut Presiden Melanggar Sumpah Jabatan dan Konstitusi
Menurut Haripin, arah reformasi itu kini justru mengalami kemunduran.
“Lalu kemudian hari-hari ini kita melihat terjadinya arus balik repolitisasi militer yang berlangsung tahun-tahun belakangan ini,” tegas Haripin.
Ia menilai kondisi tersebut perlu segera dikoreksi.
Dari perspektif manajemen pertahanan, langkah paling mendesak, kata dia, adalah mengembalikan orientasi reformasi militer dari repolitisasi menuju profesionalisme pertahanan.
“Betul-betul mengembalikan marwah institusi militer sebagai instrumen koersif negara untuk menangkal ancaman negara musuh atau betul-betul menjadi profesional dalam bidang manajemen kekerasan,” tegas Haripin.
Keterangan Haripin tersebut disampaikan dalam sidang pengujian UU TNI yang saat ini tengah menjadi sorotan karena dinilai sejumlah pemohon berpotensi memperluas peran militer di ruang sipil.
Sidang tersebut merupakan bagian dari rangkaian pemeriksaan permohonan uji materi terhadap revisi UU TNI yang sedang bergulir di MK.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
Terkini
-
Polisi Periksa Taipan Tan Kian Jadi Saksi di Kasus Korupsi Jumbo yang Seret Jampidsus
-
Polisi Periksa 15 Saksi Korupsi, Sekuriti Rumah Jampidsus Febrie di Sentul Ikut Dicecar
-
Polda Metro Jaya Pastikan Bakal Periksa Jampidsus Febrie Soal Rumah, Dolar hingga Emas 74 Kg!
-
816 Titik Bazar Daging Murah Sudah Sambangi Permukiman Warga Jakarta
-
Kejagung Bantah Datangi Polda Metro Jaya Pasca Penggeledahan Cafe de'Clan Signature
-
Geledah 13 Lokasi dan Sita 74 Kg Emas Tapi Belum Ada Tersangka, Polda: Masih Pendalaman Paripurna
-
Prabowo: Banyak yang Nyusup ke MBG untuk Jadi Maling!
-
Open House Sekolah Rakyat di Lombok Barat, Gus Ipul: Siswa Tunjukkan Banyak Perubahan
-
Drama Putri Mandalika Berbahasa Inggris Meriahkan Open House Sekolah Rakyat Lombok
-
Mendagri Minta Pemda Akselerasi Program BSPS, Target 400 Ribu Rumah