News / Nasional
Rabu, 03 Juni 2026 | 15:59 WIB
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Sufmi Dasco Ahmad menanggapi kritik Anies Baswedan mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto di Jakarta.
  • Dasco menegaskan bahwa frekuensi kunjungan Presiden bersifat dinamis dan dilakukan secara efisien sesuai kebutuhan strategis negara.
  • Pemerintah membuka ruang bagi masukan substantif terkait geopolitik daripada sekadar memperdebatkan jumlah atau durasi kunjungan diplomatik.

Suara.com - Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menanggapi santai dukungan Anies Baswedan terhadap kritik yang dilontarkan Dino Patti Djalal mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto.

Dasco menilai, ketimbang mempermasalahkan jumlah kunjungan, masukan seharusnya lebih difokuskan pada aspek substansi geopolitik.

Ia menyatakan bahwa pihaknya terbuka terhadap setiap masukan yang bersifat membangun, terutama yang berkaitan dengan strategi geopolitik Indonesia di kancah internasional.

"Menurut saya, kalau kemudian masukan soal substansi geopolitik, saya pikir saya setuju kalau itu kemudian dijadikan salah satu pertimbangan ya. Karena masukan-masukan yang bagus tentunya mengapa tidak?" ujar Dasco kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Namun, Dasco memberikan catatan kritis terkait perdebatan mengenai seberapa sering Presiden Prabowo melakukan perjalanan dinas ke luar negeri.

Menurutnya, frekuensi kunjungan tersebut tidak bisa dipatok dengan angka pasti karena sangat bergantung pada kebutuhan dan dinamika situasi global maupun domestik.

"Kalau kemudian frekuensi, saya pikir sesuai dengan kebutuhan dan situasi pada saat ini. Baik dinamika di dalam negeri, apalagi di luar negeri yang sangat mempengaruhi dinamika di dalam negeri tentunya yang terdampak," jelasnya.

Lebih lanjut, Dasco menekankan bahwa Presiden memiliki strategi diplomasi tertentu yang bersifat dinamis. Oleh karena itu, membatasi jumlah kunjungan dinilai tidak relevan dengan kebutuhan negara saat ini.

"Presiden juga mempunyai strategi-strategi yang tentunya tidak bisa dibatasi dengan jadwal harus sekian kali, harus sekian kali. Karena itu dinamis," tegas Dasco.

Baca Juga: Bukan di Istana, Prabowo Jamu Menlu Trkiye di Hambalang: Bahas Misi Rahasia untuk Palestina?

Ia juga menepis anggapan bahwa kunjungan tersebut membuang waktu.

Dasco menyebut lawatan luar negeri Presiden Prabowo sejauh ini selalu dilakukan secara efisien, dengan durasi yang singkat dan fokus pada pembahasan hal-hal yang mendesak.

"Kalau kita lihat kepergian Presiden ke luar negeri itu juga dalam waktu yang singkat-singkat, seperlunya saja, kemudian membahas yang perlu-perlu, kemudian kembali," tuturnya.

Terkait kunjungan yang terkadang terkesan mendadak, Dasco menjelaskan bahwa hal itu biasanya dipicu oleh situasi darurat yang mengharuskan kehadiran Kepala Negara sesegera mungkin.

Dasco mengajak semua pihak, termasuk Anies Baswedan dan Dino Patti Djalal, untuk memberikan ruang pada diskusi yang lebih substantif daripada sekadar menghitung jumlah atau waktu kunjungan.

"Marilah kemudian kita memberikan masukan yang substansi dan itu pasti akan diberikan ruang. Tetapi kemudian pembatasan-pembatasan, apalagi yang berkaitan dengan jumlah, waktu kunjungan, saya pikir itu tidak substantif," pungkasnya.

Load More