Suara.com - Dalam tiga dekade terakhir, banjir menjadi salah satu bencana paling merusak di dunia. Lebih dari 500.000 orang meninggal dan sekitar 2,8 miliar orang terdampak akibat banjir, mulai dari kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, hingga kerugian ekonomi yang sangat besar.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa selain perubahan iklim, penebangan hutan secara besar-besaran juga dapat meningkatkan risiko banjir secara signifikan.
Sebuah studi yang dipublikasikan dan dikutip dari The Conversation meneliti dampak penebangan hutan di British Columbia. Hasilnya menunjukkan bahwa hilangnya tutupan hutan membuat banjir besar terjadi jauh lebih sering.
Dalam beberapa wilayah yang diteliti, banjir yang sebelumnya diperkirakan terjadi sekali dalam 50 tahun dapat berubah menjadi sekali dalam tiga tahun setelah hutan ditebang secara luas.
Peneliti menjelaskan bahwa pohon berperan penting dalam menahan air hujan, menyerap air ke dalam tanah, serta memperlambat aliran air menuju sungai. Ketika tutupan hutan berkurang, air lebih cepat mengalir ke hilir sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir.
Mengapa hutan pegunungan sangat penting?
Risiko ini menjadi lebih besar di wilayah pegunungan yang memiliki salju musiman. Di daerah seperti British Columbia, banyak banjir dipicu oleh mencairnya salju.
Hutan membantu menjaga suhu permukaan tetap lebih rendah dan memperlambat proses pencairan. Jika hutan ditebang, salju mencair lebih cepat dan air mengalir dalam jumlah besar ke sungai dalam waktu singkat.
Temuan ini penting karena selama ini banyak laporan ilmiah menyebut penebangan hutan terutama meningkatkan banjir skala kecil hingga menengah. Namun penelitian terbaru menunjukkan dampaknya juga bisa terlihat pada banjir besar yang jarang terjadi.
Baca Juga: Target 2027: Jakarta Bakal Bangun 11 Rusun Baru Demi Evakuasi Warga dari Zona Bencana
Temuan serupa di Colorado
Hasil yang sejalan juga ditemukan di Colorado. Ketika sekitar 40 persen wilayah hutan ditebang, frekuensi banjir meningkat tajam.
Banjir yang sebelumnya diperkirakan terjadi setiap 20 tahun berubah menjadi setiap dua tahun.
Artinya, perubahan penggunaan lahan dapat mengubah pola banjir secara drastis dalam waktu relatif singkat.
Bagaimana dengan perubahan iklim?
Penelitian ini juga menemukan hal yang cukup menarik. Di beberapa wilayah bersalju, perubahan iklim justru dapat mengurangi sebagian risiko banjir karena lapisan salju semakin menipis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 7 Sunscreen Tone Up Terbaik untuk Kulit Kusam sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Jelang Muktamar PBNU, Gus Ipul Tegaskan Tak Semua PWNU-PCNU Punya Hak Pilih
-
Saat Stadion Tak Lagi Ramai, DPRD Usul Lahan Kamal Muara Disulap Jadi SMA Negeri
-
Kasus TPA Jatiwaringin: Mengapa Kebakaran TPA Terus Berulang, Apa Sebenarnya Akarnya?
-
Viral Perempuan Disabilitas Melahirkan, Polisi Buru Terduga Pelaku Rudapaksa di Jagakarsa
-
Ancam Hak Tanah dan Kriminalisasi Warga Adat, UU KSDAE Digugat ke MK!
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Melawan Vonis 10 Tahun, Nadiem Makarim Resmi Serahkan Memori Banding
-
Dilema Anak Muda RI: Tetap Ingin Menikah tapi Tercekik Beban Ekonomi dan Rumah Mahal
-
Kejagung Bongkar Akal-Akalan Ekspor Logam Tanah Jarang, Dua Pengiriman Diduga Sudah Lolos
-
Pantas Suka Joget, Prabowo Blak-blakan Ungkap Punya DNA India di Hadapan PM Modi: Ini Benar!