Suara.com - PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) menegaskan siap melanjutkan dialog dengan pemerintah RI untuk mencapai penyelesaian secara musyawarah atas ketidaksepahaman soal proses perundingan terkait Undang-Undang Mineral dan batubara (Minerba) di luar proses formal arbitrase.
"Kalau kita dipanggil (pemerintah) alhamdulillah. Kami percaya bahwa negosiasi (perundingan-red) langsung dengan pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat dan dapat meninggalkan pilihan arbitrase," kata Direktur Utama PT NNT, Martiono Hadianto.
Martiono mengatakan selama enam bulan terakhir PT NNT berupaya menyelesaikan isu ekspor dan mendukung program pemerintah dalam soal melakukan pemurnian di dalam negeri.
Newmont berharap dapat melanjutkan proses perundingan tersebut dengan itikad baik agar bisa memulai kembali operasi tambang di Batu Hijau dengan mempertimbangkan sisi ekonomis serta nasib sekitar 8.000 karyawan.
Menurut dia, kunci untuk memulai kembali operasi bergantung pada dua poin yang keduanya telah mencapai kemajuan, yaitu soal uang jaminan partisipasi sebesar 25 juta dolar Amerika untuk pendirian smelter baru serta pengenaan bea keluar (BK) bagi ekspor konsentrat tembaga.
"Kami setuju untuk menyediakan uang jaminan tersebut dan kami terbuka untuk mempertimbangkan kerangka bea keluar yang ekonomis, yang memungkinkan PTNNT mendapatkan izin ekspor," katanya.
Arbitrase Mengenai keputusan menggugat pemerintah ke arbitrase, Martiono mengatakan bahwa sebenarnya PT NNT telah berupaya menunda pengajuan permohonan arbitrase selama mungkin, tetapi kesepakatan yang diharapkan belum juga tercapai. Sementara operasi PTNNT telah tutup dan sebagian besar karyawan telah dikirim pulang ke rumah selama lebih dari satu bulan.
"Kami merasa memiliki tanggung jawab mengajukan permohonan arbitrase internasional untuk menyelesaikan masalah ini," ujarnya.
Martiono mengatakan yang menjadi prioritas pihaknya sekarang adalah menjaga keberlangsungan jangka panjang dan nilai dari aset tambang Batu Hijau bagi rakyat Indonesia.
Kata dia, dalam periode 2000-2013 total pendapatan peusahaan mencapai 13,1 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp153 triliun. Kontribusi bagi perekonomian nasional mencapai 8,8 miliar dolar atau 67,2 persen dari pendapatan perusahaan, baik dalam bentuk pajak, nonpajak, royalti, gaji, pembelanjaan lokal serta dividen kepada pemegang saham nasional. (Antara)
Berita Terkait
-
Keputusan FIFA Kembali Bikin Kecewa Palestina, Siap-siap Bakal Digugat ke CAS
-
Skandal Dana Raib Rp90 Miliar: Mediasi Buntu, Mirae Asset Justru Salahkan Nasabah Bocorkan Password?
-
11 Warga Diputus Bersalah karena Halangi Kegiatan Tambang, Begini Respons PT Position
-
UU Minerba: Belenggu Baru di Tengah Seruan Merdeka untuk Bumi
-
Warisan Kelam Jokowi: 2 Dosa Demokrasi yang Dibongkar Pakar Hukum Bivitri Susanti
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Gak Cuma Murah, Minyak Rusia Ternyata 'Jodoh' Buat Kilang Pertamina
-
OJK dan BEI Bongkar Data Pemilik Saham RI, Berharap Genjot Transparansi
-
Produksi Cat Nasional Tembus 1,5 Juta Ton, Pemerintah Soroti Pentingnya Keamanan Produk
-
Cara Perusahaan Asuransi Genjot Penetrasi Layanan
-
Direksi BUMN Karya Dipanggil Dony Oskaria Satu per Satu, Tentukan Nasib Restrukturisasi
-
420 Siswa Ikuti Program CyberHeroes Telkom, Bangun Kesadaran Keamanan Digital
-
Rupiah Masih di Zona Bahaya Rp 17.138
-
S&P: Peringkat Kredit Indonesia Paling Rentan Turun di Asia Tenggara
-
Ada Wacana Larangan Peredaran Vape, Apa Efeknya ke Ekonomi?
-
Jumlah Masyarakat Kelas Menengah RI Kian Merosot, Alarm Bagi Ekonomi?