Suara.com - Sejumlah maskapai yang tergabung dalam Asosiasi Maskapai Penerbang Nasional Indonesia (Inaca) mulai mencemaskan pelemahan rupiah hingga menyentuh angka Rp13.030 per dolar AS pada Selasa (10/3/2015) pagi.
"Kita sudah mulai 'sakit perut', karena hampir seluruh biaya operasional menggunakan dolar," kata Sekretaris Jenderal Inaca Tengku Burhanuddin di sela-sela Sosialisasi Peraturan Menteri Perhubungan di Jakarta, Selasa (10/3/2014).
Tengku mengatakan terdapat sejumlah komponen yang terkena dampak langsung sebesar 40 persen, termasuk avtur.
"Untuk avtur, walaupun minyak dunia turun, pendapatan kita 'kan dalam rupiah, ini yang bikin kita sulit," ucapnya.
Meskipun demikian, ia mengatakan pelemahan rupiah belum akan berpengaruh terhadap kenaikan harga tiket, namun jika terus melemah hingga ke angka Rp13.500 per dolar AS, maka lambat laun akan menurunkan daya beli masyarakat.
"Kalau sampai Rp13.500, itu yang kami takutkan kita lihat ke depannya, mungkin kita akan bicarakan dengan Kemenhub untuk penyesuaian," ujarnya.
Tengku menilai langkah lindung nilai atau "hedging" suatu maskapai tidak menjamin karena banyak risiko yang harus diambil.
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi bergerak melemah sebesar lima poin ke level Rp13.030 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.025 per dolar AS.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa munculnya data Amerika Serikat mengenai kenaikan jumlah pekerja diluar sektor pertanian hingga turunnya angka pengangguran membuat spekulasi kenaikan suku bunga acuan AS (Fed fund rate) kembali muncul. Akibatnya, mata uang dunia termasuk rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS.
"Sentimen positif dari dalam negeri bagi rupiah pascadata cadangan devisa Indonesia per akhir Februari 2015 yang naik menjadi sebesar 115,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.501,5 triliun (kurs Rp13.000 per dolar AS) cenderung meredup oleh sentimen the Fed," ungkapnya.
Kendati demikian, menurut dia, sentimen positif domestik mengenai fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup baik dalam jangka panjang akan kembali menopang mata uang rupiah.
"Untuk sementara laju rupiah cenderung terkena imbas global, ke depan potensi pembalikan arah ke area positif," tukasnya. (Antara)
Berita Terkait
-
Pernyataan Presiden soal Dolar Dinilai Bisa Jadi Sentimen Negatif bagi Rupiah
-
Wendi Cagur Keluhkan Penurunan Nilai Rupiah, Soimah: Rp1 Juta Tak Bisa Buat Beli Emas 1 Gram
-
Media Singapura Soroti Nilai Rupiah Melemah Imbas Demo di DPR: Berkinerja Terburuk Kedua di Asia
-
6 Tips Mendapatkan Tiket Pesawat Murah, Lebih Hemat Biaya!
-
TransNusa Kembali Melangit, Buka Penjualan Tiket Penerbangan ke 3 Kota
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!
-
Menkeu Purbaya Dorong Peran Swasta, Optimis Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Cepat
-
Purbaya Sebut Krisis 1998 Tak Akan Terulang, Optimis 6 Bulan Lagi Orang Susah Berkurang
-
Pertamina Dorong Perempuan Berkontribusi di Industri Energi