Suara.com - Pembentukkan klaster yang mengembangkan produksi hulu ke hilir, terutama untuk komoditas pangan, cukup efektif untuk meningkatkan produksi dan meminimalisir faktor kelangkaan, sehingga laju inflasi dapat terjaga, kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.
"Contohnya untuk bawang putih selama ini kita kan impor. Ternyata dari kalser 1 hektare itu bisa membuat produksi 22 ton. Dengan begitu, artinya kita tidak perlu tergantung pada impor kalau kita bisa menjaga produksi nasional," kata Agus di Jakarta, Senin (25/4/2016), saat memberikan penghargaan kepada 13 klaster terbaik yang dinilai telah membantu pengendalian inflasi.
Pembentukkan klaster merupakan pengembangan produksi dari hulu ke hilir yang mencakup industri pendukung, jasa penunjang, infrastruktur ekonomi, penelitian, pelatihan, dan sektor pendukung lainnya.
Agus mengatakan pendekatan produksi dengan mengedepankan sinergis antara hulu ke hilir ini sebaiknya diadaptasi di berbagai wilayah Indonesia.
Misalnya di Pontianak, kata Agus, dimana metode yang mengikuti fisiologi tanaman, yakni hazton telah dikembangkan dan terbukti telah meningkatkan produksi beras hingga dua kali lipat.
"Menggunakan sistem hazton itu yang tadinya 1 hektare bisa menghasilkan 4 ton jadi bisa meningkat menjadi 8 ton. Jadi ini harus dikembangkan dengan kerja sama pemerintah daerah dan pemerintah pusat," kata dia.
Agus mengatakan saat ini Bank Sentral melihat ancaman peningkatan laju inflasi paling besar dari harga bahan makanan bergejolak (Volatile food), karena untuk harga yang diatur pemerintah (administered prices) sudah dijaga oleh kebijakan pemerintah, seperti penurunan harga Bahan Bakar Minyak pada April ini dan Tarif Dasar Listrik.
"Misalnya bahwa inflasi Maret 0,19 persen (inflasi bulanan), 0,16 persen itu sumbangsih dari bawang merah. Kenapa? Karena kalau harganya naik sampai 30 persen itu langsung menjadi sumber tekanan inflasi," ujarnya.
BI ingin menjaga inflasi tahunan pada 2016 sebesar 4 persen plus minus 1 persen. Hingga Maret 2016, inflasi tahunan berada di 4,45 persen. Adapun untuk April, BI memprediksi akan terjadi deflasi sekitar 0,33 persen.
Sedangkan dalam pemberian penghargaan itu, Agus mengapresiasi 13 klaster terbaik. Klaser terbaik peringkat pertama adalah klaster padi organik binaan Pemda Kabupaten Ngawi, yang menjadi mitra Kantor Perwakilan BI Kediri.
Secara keseluruhan, BI membina 167 klaster yang menghasilkan 13 komoditas.
"Klaster komoditas penyumbang, beras, bawang merah dan cabai merah telah mencapai 113 klaster. Klaster-klaser ini tersebar di Pulau Jawa sebanyak 35 klaster, Sumatera 24 klaster, Kalimantan 13 klaster, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara sebanyak 41 klaster," kata Agus. (Antara)
Berita Terkait
-
Fondasi Ekonomi Warga RI Mulai Retak, Tanda-tandanya Mulai Muncul
-
BI Intervensi di Pasar Valas, Rupiah Berdarah-darah ke Level Rp17.124
-
Lonjakan Harga Pangan Nasional, Cabai Naik hingga 18 Persen
-
Pertegas Stabilitas Kawasan, AFMGM Ke-13 Sepakati Langkah Strategis Ekonomi ASEAN
-
Harga Minyak Goreng Makin Mahal, Telur dan Cabai Rawit Bagaimana?
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Reformasi OJK Sukses Tingkatkan Transparansi Pasar Modal Indonesia
-
Berlayar Sampai ke Pulau Sumbawa, Pertamina Pastikan Kompor Warga Tetap Menyala
-
Pertamina Sebaiknya Segera Naikkan Harga BBM Nonsubsidi, Awas Merugi
-
PT PGE dan PT PLN IP Sepakati Tarif Listrik, PLTP Lahendong Bottoming Unit Mulai Operasi 2028
-
Bukan KPR Biasa, Ini Rahasia Punya Properti dengan Biaya Terjangkau di BRI
-
Aturan Baru Purbaya, APBN Tanggung Cicilan Utang Kopdes Merah Putih
-
Pabrik Melamin Pertama dan Terbesar RI Resmi Dibangun di Gresik, Nilai Investasi Rp 10,2 T
-
Menko Airlangga Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Lebihi 5,3 Persen
-
Investor Global Proyeksi Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Perang AS vs Iran, Ini Buktinya
-
Makin Diakui di Kancah Global, Pegadaian Raih "The Asset Triple A di Hong Kong