Kekuatan ekonomi dunia diprediksi mulai bergeser dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang dalam jangka panjang. Sebagai salah satu negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, Indonesia diyakini akan menjadi motor penggerak ekonomi di kawasan Asia Pacific.
Bahkan Pricewaterhouse Coopers (PwC) perusahaan jasa keuangan dunia, belum lama ini mencatat bahwa dalam jangka menengah, ekonomi Indonesia diramalkan menduduki peringkat kelima di dunia pada 2030, dengan besaran PDB (pendapatan domestik bruto) di angka 5.424 miliar Dolar Amerika Serikat (AS).
Hal ini menjadi perhatian khusus dari perusahaan pengembang dan penyedia investasi properti asal Amerika, Helix Homes America LLC, dengan membuka membuka kantor perwakilan di Indonesia yang akan menjadi headquarter office Asia Pacific Region. Pembukaan kantor tersebut menandai keseriusan Helix untuk menyasar potensi pasar di Tanah Air yang diprediksi bertumbuh pesat.
Chief Executive Officer Helix Homes America LLC, Joe Nelson menyebut Indonesia sebagai negara berkembang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat bagus dan terus bertumbuh secara signifikan. Karena itu, Helix meyakini bahwa Indonesia merupakan pasar yang paling besar di regional Asia Pacific.
“Kami percaya Indonesia merupakan pasar nomor satu di kawasan Asia Pacific, bahkan dalam 10 tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi yang terbesar di kawasan ini,” ungkap Joe dalam keterangan tertulis, Selasa (4/4/2017).
Melihat potensi tersebut, Joe meyakini bahwa perusahaannya akan mampu menarik minat pasar Indonesia untuk berinvestasi properti di Amerika. Menurut dia, Indonesia memiliki karakter yang sangat menarik dalam berinvestasi properti, karena memang sudah sangat familiar dan antusias dengan instrumen investasi jenis ini.
“Indonesia sudah sangat familiar dengan investasi properti, dan sudah mulai masuk ke market internasional, meski belum terlalu berani membidik pasar Amerika. Dan kami ingin memberi edukasi bahwa potensi investasi properti di Amerika lebih menjanjikan dibanding Singapore dan Australia. Karena itu kami menyiapkan US Real Estate Summit 2017 di Indonesia pada 15 April ini. Event ini kami promosikan sebagai sarana edukasi untuk para investor properti Indonesia,” tutupnya.
Baca Juga: Investor Properti Asal AS Bidik Konsumen dari Palembang
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN