Suara.com - Perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman (Sritex) tengah terancam bangkrut. Ironisnya, emiten berkode saham SRIL ini pernah meraih masa kejayaan industri tekstil tingkat nasional. Lantas apa penyebab Sritex terancam bangkrut?
Sritex merupakan salah satu perusahaan tekstil asal Indonesia yang mampu bersaing di kancah internasional. Sebab, sejumlah produk Sritex seperti seragam militer diketahui pernah mendapat orderan dari NATO.
Merangkum dari berbagai sumber, Sritex pertama kali didirikan pada tahun 1966 dan mulai berkembang menjadi perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara.
Perusahaan ini telah dikenal dengan produk-produk yang berkualitas tinggi, seperti seragam militer, rompi anti peluru, serta perabot tekstil rumah tangga lainnya. Produk-produk Sritex telah diekspor ke berbagai negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Eropa, hingga Timur Tengah.
Namun saat ini keberadaan Sritex disebut tengah di ambang kehancuran. Hal ini turut mengancam eksistensi perusahaan tekstil itu di kancah Internasional.
Penyebab Sritex Terancam Bangkrut
Diungkap bahwa Sritex sudah lama harus berkutat dengan masalah keuangan. Pada September 2023 lalu, ekuitas perusahaan ini tercatat negatif, yang menandakan defisit modal serta kondisi perusahaan yang memburuk. Utang Sritex tercatut mencapai US$1,54 miliar (setara Rp24,3 triliun). Nilai ini melebihi asetnya yang hanya US$653,51 juta (sekitar Rp10,33 triliun).
Penurunan drastis kinerja PT Sritex dipicu oleh beberapa faktor, berikut diantaranya:
1. Pandemi Covid-19
Sama seperti beberapa perusahaan di seluruh dunia, Sritex Tbk juga terkena dampak signifikan dari pandemi Covid-19 yang membuat penurunan atas permintaan global untuk produk tekstil karena kebijakan yang moneter, pembatasan perjalanan, penutupan pabrik, hingga lockdown yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Tak hanya permintaan menurun, Covid-19 juga mengakibatkan gangguan terhadap pasokan bahan baku yang berimbas pada penundaan produksi awal dan memengaruhi produksi di akhir. Tak tinggal diam, Sritex telah berusaha mengurangi produksi untuk menghindari kelebihan stok barang serta mempertahankan cash flow yang masih stabil. Namun upaya yang diambil ini justru berdampak pada penurunan pendapatan dan laba perusahaan Sritex.
Hantaman Covid-19 membuat pasar saham turun secara signifikan di seluruh dunia. Hal tersebut tentu berdampak pada harga saham Sritex SRIL, yang mengalami penurunan sejak awal kemunculan pandemi.
walaupun selama sepuluh tahun terakhir Sritex sukses memberikan pertumbuhan laba hingga rata-rata 18,5% per tahun, namun sayangnya di tahun 2021, PT Sri Rejeki Isman justru mengalami kerugian bersih hingga mencapai US$1,08 miliar atau Rp16,76 triliun.
2. Sritex Terlilit Utang
Utang PT. Sritex Sukoharjo ternyata sudah ada sebelum pandemi Covid-19. Sesuai Daftar Efek Bersifat Ekuitas dalam Pemantauan Khusus Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga bulN September 2022, total liabilitas saham SRIL mencapai US$1,6 Miliar atau setara dengan Rp24,66 triliun.
Berita Terkait
-
Mengintip Produk Sritex, Perusahaan Tekstil Pendukung Prabowo-Gibran yang Kini Diduga Terancam Bangkrut
-
Sritex Pabrik Apa? Pabrik Tekstil Terbesar Se-Asia Tenggara, Terlilit Utang hingga Terancam Bangkrut
-
Profil Pabrik Tekstil Sritex: Dulu Bangga All In Prabowo-Gibran, Kini Terancam Gulung Tikar
-
Pabriknya Terancam Bangkrut, Bos Raksasa Tekstil Sritex Memohon Ini ke Gibran
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
DJP Ungkap Aktivasi Akun Coretax Tembus 16,6 Juta di H+1 Lebaran
-
Jelang Deadline, Jumlah Wajib Pajak Lapor SPT Tembus 8,7 Juta
-
Hari Air Sedunia: Ini Sederet Kisah Pertamina dari Ujung Papua hingga Wilayah Bencana
-
Jadwal Operasional BRI Pasca Libur Lebaran 2026
-
Harga Minyak Naik, Prabowo Kebut Proyek PLTS buat Gantikan Tenaga Diesel
-
Seluruh Rest Area di Tol Cipali Akan Berlakukan Sistem Buka Tutup
-
Biang Macet Saat Mudik Terungkap! 21 Ribu Kehabisan Saldo E-Toll
-
Jangan Lupa! Besok Pasar Saham RI Kembali Dibuka, IHSG Diproyeksi Anjlok
-
Gegara Selat Hormuz Tutup, Harga BBM di AS Tembus Rp 68.000
-
BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional