Relevansi Bagi Indonesia dan Asia Tenggara
Dampak dari pengembangan senjata nuklir secara masif yang dilakukan negara pimpinan Kim Jong-un itu menjadi masalah serius yang dapat memicu perlombaan senjata dan meningkatkan ketegangan regional hingga skala yang lebih besar.
Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara bisa dikatakan berada dalam jangkauan beberapa rudal balistik Korea Utara yang dapat membawa hulu ledak nuklir. Meskipun saat ini Korea Utara mungkin lebih fokus pada target-target yang lebih dekat, seperti Korea Selatan, Jepang, atau pangkalan militer AS di kawasan ini, eskalasi konflik dapat menimbulkan dampak yang meluas dan tak terduga.
Menurut penelitian yang diterbitkan di Journal of Strategic and International Studies (2023), eskalasi konflik nuklir di Semenanjung Korea dapat meningkatkan kekhawatiran keamanan di seluruh Asia, termasuk Asia Tenggara.
Tidak hanya Indonesia, negara-negara di ASEAN harus mempertimbangkan langkah-langkah pertahanan yang lebih kuat dalam menghadapi ancaman nuklir potensial, seperti memperkuat sistem pertahanan udara dan misil serta memperkuat kerjasama pertahanan dengan negara-negara sekutu. ASEAN juga dihadapkan pada dilema mengenai kebijakan pertahanan kolektif dan perlindungan terhadap ancaman nuklir.
Meski Indonesia adalah salah satu negara non-nuklir dan salah satu penandatangan Treaty on the Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ) yang berkomitmen menjaga kawasan Asia Tenggara bebas dari senjata nuklir. Namun, ancaman nuklir dari Korea Utara memerlukan penilaian ulang atas postur pertahanan dan kebijakan strategis Indonesia.
Pemerintah bisa mempertimbangkan untuk memperkuat Sistem Pertahanan Anti-Rudal. Apalagi, saat ini Indonesia hanya memiliki sistem pertahanan rudal jarak pendek seperti Mistral dan Starstreak, ancaman nuklir dari rudal balistik jarak menengah dan jauh membutuhkan sistem pertahanan yang lebih canggih. Menurut analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) (2024), negara-negara Asia Tenggara perlu mempertimbangkan modernisasi pertahanan mereka, termasuk kemungkinan pembelian sistem pertahanan udara yang lebih canggih seperti THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) atau S-400.
Selanjutnya, Indonesia bisa meningkatkan diplomasi pertahanan dan kerjasama internasional dengan negara-negara mitra seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Australia bahkan Korea Utara sendiri guna meminimalisir ancaman. Partisipasi dalam latihan militer gabungan seperti RIMPAC dan Garuda Shield menjadi lebih penting dalam meningkatkan interoperabilitas militer dan kesiapan menghadapi ancaman nuklir. Selain itu, diplomasi Indonesia di ASEAN juga harus diperkuat untuk memastikan respons kolektif dan koordinasi dalam menghadapi ancaman nuklir.
Untuk respon ancaman nuklir, Indonesia perlu meningkatkan kapabilitas pertahanan nuklir seperti pengembangan sistem peringatan dini, deteksi radiasi, dan fasilitas perlindungan sipil. Laporan dari Institute of Defence and Strategic Studies (2023) menjelaskan, langkah-langkah perlindungan sipil, termasuk pelatihan evakuasi dan penanganan darurat, perlu ditingkatkan di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Muncul Permintaan Penyelidikan Peran Selandia Baru dalam Perang di Gaza
Indonesia memiliki tantangan dalam menyeimbangkan modernisasi militer dan kebutuhan pembangunan sosial dan ekonomi. Meningkatkan anggaran pertahanan untuk mengembangkan dan membeli sistem pertahanan anti-rudal dan memperkuat diplomasi pertahanan mungkin memerlukan alokasi sumber daya yang lebih besar. Namun, ini harus dilakukan tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan domestik dan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah, melalui Kementerian Pertahanan perlu terus mendorong zona bebas senjata nuklir di Asia Tenggara melalui SEANWFZ dan berpartisipasi aktif dalam forum-forum internasional seperti Konferensi Pelucutan Senjata di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mempromosikan stabilitas regional dan global. Global Security Review (2024) memaparkan, Indonesia bisa memilih diplomasi yang efektif untuk mengurangi ancaman nuklir dan memastikan keamanan jangka panjang.
Selaku negara anggota ASEAN dan Non-Blok, Indonesia memiliki posisi strategis untuk mendorong dialog dan de-eskalasi di tingkat internasional. Posisi ini bisa semakin kuat jika Kemlu meningkatkan diplomasi multilateral melalui forum-forum seperti ASEAN Regional Forum (ARF) dan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur (EAS) untuk mempromosikan dialog damai dan pencegahan eskalasi konflik di Semenanjung Korea .
Konflik perang nuklir antara Korea Utara dan Korea Selatan harus diakui sebagai ancaman serius bagi perdamaian dunia dan kepentingan Indonesia. Indonesia harus terus mengembangkan strategi kebijakan luar negeri yang proaktif dan pertahanan yang kuat untuk melindungi WNI dan berperan dalam upaya global menjaga perdamaian dan stabilitas. Dalam menghadapi ancaman ini, kuncinya adalah pendekatan diplomasi multilateral dan kesiapsiagaan pertahanan yang lebih baik.
Tag
Berita Terkait
-
Perang antar Kartel Narkoba di Meksiko: 12 Tewas, Perayaan Nasional Dibatalkan hingga Sekolah Ditutup
-
Rusia Usir 6 Diplomat Inggris, Tuduh jadi Mata-mata hingga Lakukan Sabotase
-
Pertempuran Sengit di Timur Ukraina, Rusia Intensifkan Serangan di Kurakhove dan Pokrovsk
-
Kabar Baik! Lee Yeon Hee Melahirkan Anak Pertama dengan Selamat
-
Jepang Langsung Kerahkan Jet Tempur setelah Pesawat Rusia Melintasi Kepulauan
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
-
Unilever Jual Sariwangi ke Grup Djarum Senilai Rp1,5 Triliun
Terkini
-
Bahlil Sengaja Tahan Produksi Batu Bara Jadi 600 Juta di 2026 Demi Harga Stabil
-
Saham Garuda Indonesia (GIAA) Meroket Awal 2026, Ini Penyebabnya
-
IHSG Tembus Level 9.000, Menkeu Purbaya: Lanjut Terus!
-
Dolar AS Ngamuk Bikin Rupiah Terkapar Lemah ke Level Rp 16.798
-
Pengertian Exercise Saham: Strategi Mengubah Hak Menjadi Kepemilikan Aset
-
Setelah Himbara, BP BUMN Kini Koleksi Saham BUMN Karya dari Danantara
-
Harga Pangan Nasional Mayoritas Turun, Cabai hingga Beras Terkoreksi
-
Purbaya Umumkan Defisit APBN 2025 Rp 695,1 Triliun, Nyaris 3 Persen!
-
Harga Pi Network Tahun 2026 Bisa Tembus Rekor Tertinggi?
-
Tangani Bencana di Sumatera, Kementerian PU Sudah Kerahkan 1.709 Alat Berat