Suara.com - Pinjaman online (pinjol) ilegal terus menjadi momok yang meresahkan masyarakat Indonesia. Meskipun pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) gencar memberantasnya, nyatanya masih banyak aplikasi pinjol ilegal yang lolos dari pantauan dan bahkan masih bisa ditemukan di Google Play Store. Keberadaan mereka di platform resmi ini tentu sangat berbahaya karena dapat menjebak masyarakat yang tidak waspada dalam jeratan utang dan praktik penagihan yang brutal.
Mengapa Pinjol Ilegal Berbahaya?
Sebelum membahas daftar aplikasinya, penting untuk memahami mengapa pinjol ilegal sangat berbahaya:
- Bunga Selangit dan Biaya Tersembunyi: Pinjol ilegal tidak terikat aturan OJK sehingga bisa mematok bunga yang sangat tinggi dan biaya-biaya lain yang tidak transparan. Ini membuat jumlah utang membengkak dalam waktu singkat.
- Praktik Penagihan Biadab: Penagih utang pinjol ilegal tidak segan melakukan teror, ancaman, penyebaran data pribadi (penyebaran kontak darurat), hingga kekerasan verbal untuk menagih utang.
- Penyalahgunaan Data Pribadi: Data pribadi nasabah yang dikumpulkan oleh pinjol ilegal sangat rentan disalahgunakan, bahkan diperjualbelikan untuk kepentingan ilegal lainnya.
- Tidak Ada Perlindungan Hukum: Karena ilegal, nasabah tidak memiliki perlindungan hukum jika terjadi masalah atau perselisihan.
Mengapa Pinjol Ilegal Masih Ada di Google Play Store
Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa aplikasi pinjol ilegal masih ada di Google Play Store? Umumnya, mereka menggunakan beberapa modus operandi:
- Mengubah Nama Aplikasi: Setelah diblokir, mereka seringkali muncul kembali dengan nama yang berbeda namun dengan ciri-ciri dan skema yang sama.
- Menggunakan Nama yang Menyesatkan: Beberapa aplikasi menggunakan nama yang mirip dengan pinjol resmi atau instansi keuangan terkemuka untuk mengelabui calon korban.
- Melakukan Pembaruan Kecil: Terkadang, mereka hanya melakukan pembaruan kecil pada aplikasi untuk menghindari deteksi sistem.
- Menargetkan Keyword Tertentu: Mereka menggunakan strategi optimasi kata kunci (keyword) yang menarik perhatian pengguna yang sedang mencari pinjaman cepat.
Daftar Contoh Aplikasi Pinjol Ilegal yang Patut Diwaspadai
Penting untuk diingat bahwa daftar aplikasi pinjol ilegal dapat berubah setiap saat karena mereka kerap mengganti nama atau muncul dengan identitas baru. Namun, berikut adalah beberapa nama yang sering muncul dalam laporan masyarakat atau pernah diblokir OJK dan patut Anda curigai jika menemukan aplikasi dengan nama serupa atau karakteristik yang sama di Google Play Store:
- "Dana Cepat"
- "Kredit Kilat"
- "Pinjaman Now"
- "Go Dana"
- "Uang Tunai"
- "Pinjaman Online Mudah"
- "Dana Mudah"
- "Cash Pro"
- "Super Dana"
- "Kredit Cepat Cair"
Bagaimana Melindungi Diri dari Pinjol Ilegal?
- Selalu Cek Legalitas di OJK: Ini adalah langkah paling utama. Kunjungi website resmi OJK atau hubungi kontak OJK untuk memastikan aplikasi yang akan Anda gunakan terdaftar dan diawasi.
- Baca Syarat dan Ketentuan dengan Teliti: Pahami seluruh syarat, bunga, dan biaya yang dibebankan sebelum mengajukan pinjaman.
- Jangan Tergiur Iklan Menggiurkan: Pinjol ilegal sering menawarkan iming-iming pinjaman mudah dan cepat tanpa persyaratan rumit.
- Laporkan ke OJK: Jika Anda menemukan aplikasi pinjol ilegal di Google Play Store atau menjadi korban pinjol ilegal, segera laporkan ke OJK melalui kontak 157 atau situs web resmi OJK. Anda juga bisa melaporkan ke kepolisian jika sudah menyangkut tindakan kriminal.
- Hapus Aplikasi yang Mencurigakan: Jika Anda sudah terlanjur mengunduh aplikasi yang mencurigakan, segera hapus dari perangkat Anda.
Pemerintah dan OJK terus berupaya memerangi pinjol ilegal, namun edukasi dan kewaspadaan masyarakat adalah kunci utama. Jangan biarkan diri Anda terjebak dalam lingkaran setan pinjaman ilegal. Selalu utamakan keamanan data dan finansial Anda.
Baca Juga: Penawaran Pinjol Lewat WA dan SMS Bisa Dilaporkan, Ini Aturannya
Desclaimer: Redaksi Suara.com tidak merekomendasikan Anda untuk mengakses pinjol apapun yang berisiko terhadap keuangan. Terutama jika pinjol ilegal, tidak disarankan Anda untuk mengakses. Selalu pastikan keamanan dan izin resmi OJK untuk memastikan keselamatan Anda. Segala risiko ada di tangan pembaca.
Kontributor : Rizqi Amalia
Berita Terkait
-
Utang Masyarakat di Pinjol Tembus Rp 80,94 Triliun
-
Modal Asing Sudah Kabur dari Indonesia Rp 45,19 Triliun
-
Dividen BUMN Mengalir ke Danantara, OJK Minta Perbankan Transparan
-
Apakah Bisa Ajukan Pinjol di 4 Aplikasi Sekaligus? Begini Aturan Resmi OJK
-
Tidak Terjebak Pinjol Bodong: Tips Aman Ajukan Pinjaman Online
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 5 Sepatu Saucony Paling Nyaman untuk Long Run, Kualitas Jempolan
Pilihan
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
-
IHSG Tembus Rekor Baru 9.110, Bos BEI Sanjung Menkeu Purbaya
Terkini
-
Purbaya Santai Defisit APBN Nyaris 3 Persen: Kalau Enggak Kita Sekarang Krisis & Resesi
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Stok Beras Bulog Menumpuk Bisa Rugikan Negara
-
DPR Telah Jadwalkan 'Fit and Proper Test' Calon Deputi Gubernur BI Keponakan Prabowo
-
Emiten IRSX Jadikan Konser Hybrid Jadi Ladang Cuan Baru
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
IHSG Hanya Naik Tipis 0,01% Hari Ini, Meski Harga Emas Pecah Rekor
-
Purbaya Serang Balik Ekonom usai Kritik Keponakan Prabowo Masuk BI: Dia Iri
-
Kabar Keponakan Prabowo Jadi Calon Deputi Gubernur BI Dorong Rupiah Jatuh ke Level Rp 16.956
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI