- Purbaya melihat realisasi belanja Pemda semakin lesu jelang akhir tahun.
- Menurutnya kondisi ini bisa membuat ekonomi sepanjang tahun ini lesu.
- Dana triliunan yang seharusnya berputar di masyarakat melalui proyek-proyek pembangunan, malah mengendap di bank.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa nampaknya sudah kehabisan kesabaran. Melihat realisasi belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang lesu, Purbaya langsung mengirimkan surat teguran keras kepada seluruh gubernur, bupati, dan wali kota di Indonesia.
Kelesuan belanja daerah ini dinilai berpotensi besar merontokkan laju pertumbuhan ekonomi nasional pada akhir tahun 2025. Purbaya menegaskan, lambannya penyerapan APBD tidak sejalan dengan arahan Presiden dan dapat menghambat program pembangunan.
Dalam surat bernomor S-662/MK.08/2025 yang dikirim pada 20 Oktober 2025 itu, Purbaya menyoroti disparitas antara dana yang disalurkan Pusat dan yang dibelanjakan Daerah.
Berdasarkan catatan hingga September 2025, Dana Transfer ke Daerah (TKD) sudah disalurkan sebesar Rp644,8 triliun atau 74 persen dari pagu. Namun, realisasi belanja daerah secara total justru menurun dibandingkan tahun lalu.
Akibatnya, fenomena yang mengkhawatirkan kembali terulang dimana simpanan dana Pemda di perbankan melonjak naik hingga kuartal III-2025. Dana triliunan yang seharusnya berputar di masyarakat melalui proyek-proyek pembangunan, malah mengendap di bank.
"Terkait dengan hal tersebut, dari pemantauan dan evaluasi yang dilakukan di pusat, kami meminta agar juga dilakukan langkah penguatan secara harmonis di Daerah," tulis Purbaya dalam suratnya dikutip Senin (10/11/2025).
Untuk 'menggenjot' ekonomi agar tidak rontok di penghujung tahun, Purbaya memberikan tiga arahan tegas kepada pimpinan daerah:
Pertama, melakukan percepatan penyerapan belanja daerah secara efisien dan efektif dengan tata kelola yang baik.
Kedua, segera melakukan pemenuhan belanja kewajiban pada pihak ketiga yang telah menyelesaikan proyek-proyek Pemda.
Baca Juga: Purbaya Mau Redenominasi, BI: Harus Direncanakan Matang
Ketiga, memanfaatkan dana simpanan Pemda yang mengendap di perbankan untuk belanja program dan proyek prioritas di daerah.
Purbaya juga meminta agar monitoring belanja APBD dilakukan secara berkala (mingguan/bulanan). Hal ini penting tidak hanya untuk menyelamatkan ekonomi 2025, tetapi juga sebagai bahan evaluasi perbaikan di tahun 2026, agar program pembangunan nasional yang ditetapkan Presiden dapat terwujud.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
BRI Apresiasi Penempatan Dana SAL Pemerintah, Fokus Pembiayaan Produktif untuk Akselerasi Ekonomi
-
Dolar AS Diproyeksi Perkasa Ditopang Wall Street, Rupiah Bisa Anjlok Lagi?
-
Trump Mau Pecat Gubernur The Fed, Malah Kena 'Tampar' Mahkamah Agung!
-
Kilang Terbesar Arab Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Mulai Stabil
-
Harga LNG Dipangkas, Mampukah Bendung PHK?
-
Harga Gas untuk Industri Turun, Dasco: Kabar Gembira untuk Buruh
-
Pendaftaran Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Resmi Dibuka, Cek Jadwal dan Rinciannya
-
Pasokan Gas Murah Seret, Kemenperin Minta AGIT Dicabut demi Tak Ada PHK
-
DEN: Rupiah Melemah saat Kepercayaan pada Pemerintah Tergerus
-
Investor Ritel Kini Bisa Punya Analis Saham Berbasis AI