-
Rupiah menguat 0,22 persen ke Rp16.654 per dolar AS sore ini.
-
Penguatan rupiah didorong spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed.
-
IKK melonjak ke 121,2 pada Oktober, tunjukkan optimisme ekonomi.
Suara.com - Nilai tukar rupiah ditutup menghijau pada sore ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Senin (10/11/2025) ditutup di level Rp 16.654 per dolar Amerika Serikat (AS).
Level itu menguat 0,22 persen dibanding penutupan pada Jumat yang berada di level Rp 16.690 per dolar AS. Apresiasi nilai tukar ini juga terjadi pada mata uang asia yang bergerak bervariasi terhadap dolar.
Hal itu terlihat pada Won Korea menguat 0,55 persen bersama yuan China sebesar 0,05 persen. Adapun, peso Filipina dan ringgit Malaysia masing-masing menguat 0,12 persen dan 0,35 persen terhadap dolar AS.
Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah ini disebabkan oleh dua faktor yakni dari global maupun domestik.
Sentimen global dipengaruhi oleh mengenai spekulasi berkelanjutan bahwa sebagian besar mempertahankan spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember.
Terutama, setelah serangkaian data sektor swasta yang lemah di pasar tenaga kerja minggu lalu. Sementara itu, data pekerjaan Challenger menunjukkan bahwa AS mengalami gelombang PHK terburuk dalam sekitar 20 tahun pada bulan Oktober.
"Data tersebut meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga untuk mencegah pelemahan pasar tenaga kerja lebih lanjut," ujarnya.
Sedangkan dari sentimen domestik dipengaruhi oleh keyakinan masyarakat Indonesia terhadap kondisi ekonomi nasional kembali melonjak tajam pada Oktober 2025.
Hasil Survei Konsumen terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya rebound optimisme, menempatkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada posisi 121,2.
Baca Juga: Senin Pagi, Rupiah Dibuka Menguat Terhadap Dolar AS
Angka IKK ini jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, September 2025, yang berada di level 115,0. Berada di atas 100, IKK mengindikasikan bahwa konsumen sangat yakin dan percaya diri melihat prospek perekonomian nasional.
Peningkatan optimisme ini didorong oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kedua komponen utama pembentuk IKK. Pertama, Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) mengalami kenaikan yang signifikan, dari 102,7 pada September menjadi 109,1 pada Oktober.
Kenaikan ini mencerminkan persepsi masyarakat yang membaik terhadap kondisi riil seperti penghasilan yang diterima dan ketersediaan lapangan kerja saat ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Masih Genggam Sedikit, Kapan Danantara Tambah Porsi Saham GOTO?
-
Botol Plastik Kini Bisa Ditukar BBG untuk Bajaj Gas
-
OSL Indonesia Resmi Gabung Ekosistem ICEx Group, Perkuat Infrastruktur Kripto Nasional
-
Seller Alihkan Penjualan ke Website, Era Belanja di E-Commerce Berakhir?
-
Investor Masih Nahan Dana, IHSG Terus Meluncur Turun ke Level 6.905
-
Rupiah Terpeleset ke Rp17.414: Ketegangan Global dan Harga Minyak Jadi Beban
-
OJK Bahas Rebalancing MSCI, Ada Saham yang Bakal Didepak dari IHSG?
-
Rebalancing MSCI Diumumkan Besok, Danantara Pede Pasar Modal RI Tak Turun Kasta
-
Pegadaian dan SMBC Indonesia Kembangkan Sustainable Financing Framework 2026 Berbasis ESG
-
Menkeu Purbaya Batal Aktifkan BSF: Kita Enggak Krisis