- Perdagangan aset kripto pada awal November kedua mengalami tekanan berat.
- Bitcoin (BTC) terkoreksi 14,63% dalam sebulan, sementara altcoin seperti Solana (SOL) terpukul lebih dalam.
- Koreksi pasar ini dipicu kekhawatiran siklus halving historis dan gelombang likuidasi pada posisi leverage.
Data pasar menunjukkan fakta yang mengejutkan: nilai pasar Bitcoin telah tergerus lebih dari US$600 miliar atau setara dengan sekitar Rp 10.032 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.720) sejak mencapai puncaknya di atas level US$126.000 pada bulan Oktober lalu.
Ironisnya, koreksi tajam ini terjadi di tengah fundamental eksternal yang sebenarnya terlihat menguat.
Dukungan dari institusi keuangan Wall Street terus meningkat, arus masuk dana ke ETF Bitcoin masih mengalir deras, dan pemerintahan baru di bawah Donald Trump menunjukkan sikap yang sangat pro terhadap industri kripto.
Namun, realitas di pasar berkata lain; harga tetap rontok meski didukung sentimen positif tersebut.
Analis pasar menilai ada dua faktor utama yang memperburuk sentimen saat ini. Pertama adalah kekhawatiran investor terhadap pola historis siklus halving empat tahunan Bitcoin.
Jika dilihat secara historis, halving terakhir terjadi pada April 2024, dan puncak harga tercapai pada Oktober 2025. Pola ini memicu ketakutan bahwa setelah kenaikan besar tersebut, pasar akan memasuki fase koreksi dalam (bear market).
Faktor kedua adalah gelombang likuidasi pada posisi leverage. Peningkatan ketegangan perdagangan global telah memicu aksi jual besar-besaran di pasar derivatif kripto.
Hal ini menciptakan efek domino berupa margin call dan penjualan paksa (forced selling), yang menjelaskan mengapa penurunan harga berlangsung begitu cepat dan mengapa altcoin mengalami koreksi yang jauh lebih dalam dibandingkan Bitcoin.
Minimnya penopang beli di pasar membuat harga aset kripto sangat rentan terhadap volatilitas ekstrem.
Baca Juga: Harga Bitcoin Tengah Ambruk, Investor Disarankan Ambil Langkah Ini
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Mencekam! SPBE di Cimuning Bekasi Terbakar Hebat, Langit Malam Berubah Merah
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
Terkini
-
Sambangi Korsel, Bahlil Hasilkan 3 Kerja Sama Strategis di Sektor Energi
-
Tak Asal Tanam, Petani Sawit Mulai 'Melek' Gunakan Metode Ilmiah
-
Sumbang Rp 4,96 T, ITDC Beberkan Efek MotoGP ke Ekonomi RI
-
Menaker: WFH Tidak Boleh Kurangi Gaji dan Tunjangan Karyawan
-
Ekonom Beberkan Solusi Agar APBN Tak Terbebani Subsidi Energi
-
WFH Seminggu Sekali untuk Swasta Tak Harus Setiap Jumat
-
Dorong WFH 1 Hari dalam Sepekan, Menaker Pastikan Hak Pekerja Tak Dipangkas
-
Dana SAL Rp 420 Triliun, Purbaya Buka Opsi Pakai Kas Pemerintah demi Amankan APBN
-
Imbauan WFH 1 Hari Seminggu di Sektor Swasta Dapat Dukungan Pengusaha dan Pekerja
-
Purbaya Proyeksi Defisit APBN 2026 Tembus 2,9% Meski Harga Minyak Terus Naik