Awal Karier (1983): Setelah lulus sarjana, Ken diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak.
Mendapat Promosi Eselon (1991): Setelah meraih gelar master di Belanda, karier Ken menanjak. Pada 1991, ia dipromosikan menjadi eselon IV, menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Kepegawaian.
Jabatan Regional (1997-2003): Kariernya terus berkembang. Pada 1997, ia dipromosikan menjadi eselon III, dan pernah mengemban jabatan strategis sebagai Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Pekanbaru, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bojonegoro, dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Badan dan Orang Asing Satu.
Memasuki 2003, ia dipromosikan lagi menjadi Direktur Informasi Perpajakan dan Kepala Kantor Wilayah DJP di Kalimantan Timur dan Jawa Timur.
Puncak Karier Dirjen Pajak (2016-2017): Pada 2015, Ken sempat ditarik Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menjadi staf ahli di bidang peraturan dan penegakan hukum pajak. Ia baru diangkat secara resmi menjadi Direktur Jenderal Pajak pada 1 Maret 2016, menggantikan Sigit Priadi Pramudito yang mengundurkan diri.
Meskipun masa kepemimpinannya sebagai Dirjen Pajak hanya berlangsung sekitar setahun (hingga 2017 karena memasuki masa pensiun), periode ini sangat krusial.
Selama menjabat, Ken Dwijugiasteadi dikenal aktif mengupayakan program tax amnesty atau pengampunan pajak, yang mana Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak disahkan saat ia berada di pucuk pimpinan DJP.
Kontributor : Rizqi Amalia
Baca Juga: Rekam Jejak Jeffry Simatupang, Mundur sebagai Pengacara Helwa Bachmid untuk Melawan Habib Bahar
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif
-
Defisit APBN 2025 Hampir 3 Persen, Purbaya Singgung Danantara hingga Penurunan Pajak
-
Target IHSG Tembus 10.000, OJK: Bukan Tak Mungkin untuk Dicapai