- Harga Bitcoin (BTC) saat ini terkoreksi di sekitar $87.311.
- Secara teknikal, BTC bergerak dalam saluran menurun, dengan tren makro masih didominasi bearish selama di bawah MA 100 dan 200 hari.
- Data on-chain menunjukkan adanya resistansi kuat lain di $96.000–$97.000.
Suara.com - Harga Bitcoin (BTC) saat ini bergerak dalam struktur korektif yang menentukan, berjuang melawan blok resistance kunci di kisaran $91.000 hingga $93.000 setelah mengalami kenaikan tajam.
Meskipun sempat pulih agresif, tren yang lebih luas masih cenderung menurun. Saat artikel ini ditulis, harga Bitcoin berdasarkan pantauan Redaksi Suara.com via CoinMarketCap, berada di kisaran $87.311 USD (btc to usd) atau setara Rp1.454.025.665 (btc to idr).
Analisis dari grafik harian dan data on-chain menunjukkan bahwa BTC sedang mendekati area pertempuran sengit di mana arah pergerakan harga selanjutnya kemungkinan besar akan ditentukan dalam waktu dekat.
Analis CryptoViz menyebut, BTC masih bergerak di dalam saluran menurun (descending channel) yang terdefinisi jelas, dengan harga saat ini menguji batas tengah dari struktur tersebut.
Kenaikan harga baru-baru ini terjadi setelah rebound kuat dari zona permintaan (demand zone) makro di $80.000–$83.000, yang menandai pembelian kembali paling agresif dalam sebulan terakhir.
Namun, laju kenaikan terhenti tepat di batas bawah blok pasokan (supply block) hijau, yaitu di sekitar $90.000–$93.000.
- Tekanan Bearish: Rata-rata pergerakan 100 hari dan 200 hari (Moving Averages/MA) terus miring ke bawah dan berada di atas harga pasar, bertindak sebagai resistance dinamis. Selama harga BTC bertahan di bawah MA ini, tren makro masih didominasi bearish (menurun).
- Level Kunci: Pembatalan utama dari arus bearish (bearish order flow) hanya akan terjadi jika Bitcoin berhasil menembus dan bertahan di atas zona $103.000–$106.000, yang merupakan persimpangan wilayah pasokan utama (golden supply region).
Saat ini, Bitcoin berjuang untuk keluar dari garis tren menurun. Setiap kenaikan harga ke area $91.000–$93.000 menunjukkan momentum beli yang melemah, menandakan pasar belum siap untuk breakout yang berkelanjutan.
Pada grafik 4-jam, aset telah mencapai kisaran resistance kritis, yang ditandai oleh blok pesanan bearish $92.000 dan garis tren menurun multi-minggu.
- Skenario Bearish: Jika resistance saat ini bertahan, kembalinya harga menuju $86.000–$88.000 menjadi mungkin. Likuiditas yang lebih dalam masih berada di zona permintaan makro $80.000–$83.000, yang merupakan support terkuat pada grafik.
- Skenario Bullish: Sebaliknya, penutupan harian di atas level $93.000 akan membuka jalan menuju zona inefisiensi $102.000–$106.000, di mana reaksi utama berikutnya diperkirakan terjadi.
Posisi saat ini sangat menentukan, dan beberapa minggu ke depan akan menentukan apakah rebound ini akan berkembang menjadi penarikan kembali penuh atau memudar menjadi kelanjutan dari tren menurun yang lebih luas.
Baca Juga: Triliunan Rupiah Menguap Gegara Bitcoin Anjlok, Ini Fakta-fakta yang Wajib Diketahui
Sementara indikator teknikal menyoroti $92.000 sebagai hambatan terdekat, data on-chain mengungkapkan adanya lapisan resistance kedua yang sangat kuat sedikit di atas level tersebut. Resistance ini didorong oleh basis biaya rata-rata (average cost basis) dari kelompok partisipan pasar tertentu.
Metrik Realized Price by UTXO Age Bands menyoroti konvergensi penting dari dua kelompok investor:
Kelompok 1 Minggu hingga 1 Bulan (Garis Hijau): Mewakili pembeli yang masuk karena fear of missing out (FOMO) baru-baru ini.
Kelompok 6 Bulan hingga 12 Bulan (Garis Oranye): Mewakili pemegang jangka menengah yang masuk awal tahun.
Harga terealisasi (realized price) dari kedua kelompok ini telah bertemu di kisaran $96.000–$97.000. Konvergensi ini menciptakan blok resistance yang masif.
Secara psikologis, ketika harga kembali ke basis biaya rata-rata mereka, para investor yang sebelumnya mengalami kerugian (unrealized loss) cenderung ingin keluar (exit) dengan breakeven (impas), yang menciptakan tekanan jual substansial.
Berita Terkait
-
Harga Bitcoin Anjlok ke 82.000 Dolar AS, CEO Binance: Tenang, Hanya Taking Profit Biasa
-
Saham AS Jeblok, Bitcoin Anjlok ke Level Terendah 7 Bulan!
-
Sinyal Bearish Bitcoin: Waspada Bull Trap di Tengah Ketidakpastian Makro Global
-
Harga Bitcoin Terus Merosot Hingga di Bawah USD 90.000, Begini Prospeknya
-
Aset Kripto Masuk Jurang Merah, Tekanan Jual Bitcoin Sentuh Level Terendah 6 Bulan
Terpopuler
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan, RAM 6 GB Performa Jempolan
- 5 Sepatu Skechers Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Cocok Dipakai Lansia
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
Pilihan
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
Terkini
-
Harga Batu Bara Meroket Imbas Kebijakan China, Menuju Harga Tertinggi?
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Menteri PU: Tidak Ada Lagi Kabupaten/Kota Terisolasi Akibat Banjir Sumatera
-
Harga Makin Naik, Gen Z dan Milenial Kompak Borong Beli Emas
-
DBS: Ekonomi AS Bakal Masuki Era Baru, Utang Bakal Tinggi
-
Laporan Korban Makin Banyak, Ini Metode Penipuan Paling Rentan di Sektor Keuangan
-
Aliran Uang PT Dana Syariah Indonesia Diduga Masuk ke Rekening Direksi
-
Cadangan Hidrokarbon Ditemukan di Sumur Mustang Hitam, Riau
-
OJK Ungkap Dana Syariah Indonesia Terlibat Proyek Fiktif Hingga Skema Ponzi
-
Dorong Melek Keuangan, Pelajar Dibidik Buka Tabungan