- Ekspor sawit November merosot 28,86%; batu bara turun 2,72% secara tahunan.
- Total ekspor RI 2025 tembus USD 256,56 miliar, tumbuh 5,61% ditopang non-migas.
- Sektor industri pengolahan jadi motor utama ekspor dengan andil 10,41%.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya tekanan pada kinerja ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia pada November 2025.
Dua komoditas andalan, yakni kelapa sawit dan batu bara, mencatatkan penurunan volume ekspor secara tahunan (year-on-year/yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa volume ekspor sawit pada November 2025 merosot tajam sebesar 28,86% menjadi 1,36 juta ton. Sementara itu, volume ekspor batu bara juga terkoreksi tipis 2,72% ke angka 34,17 juta ton.
“Volume ekspor sawit dan batu bara secara year on year pada November 2025 sama-sama mengalami penurunan,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Meskipun komoditas energi dan sawit mengalami tekanan di bulan November, sektor mineral menunjukkan performa yang solid secara kumulatif. Ekspor konsentrat tembaga sepanjang Januari–November 2025 telah mencapai 131,36 juta ton dengan nilai menembus USD 4,55 miliar.
Secara total, nilai ekspor Indonesia periode Januari–November 2025 mencapai USD 256,56 miliar, tumbuh 5,61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh kinerja ekspor non-migas yang naik 7,08%, sementara ekspor migas justru anjlok 17,64%.
Pudji menekankan bahwa sektor industri pengolahan menjadi pilar utama pertumbuhan ekspor non-migas dengan andil sebesar 10,41%.
“Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar adalah minyak kelapa sawit, perhiasan, kimia dasar organik, logam dasar bukan besi, hingga semikonduktor dan komponen elektronik,” rincinya.
Ringkasan Performa Ekspor (Januari–November 2025):
Baca Juga: Gebrakan KDM Haramkan Jabar untuk Penanaman Sawit Baru
- Total Ekspor: USD 256,56 miliar (Naik 5,61% yoy).
- Ekspor Non-Migas: USD 244,75 miliar (Naik 7,08% yoy).
- Ekspor Migas: USD 11,81 miliar (Turun 17,64% yoy).
Pencapaian ini menunjukkan bahwa meski volume beberapa komoditas mentah melambat, hilirisasi melalui industri pengolahan dan sektor pertanian tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan ekspor nasional di pengujung tahun 2025.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Pertamina Fasilitasi 1.346 Sertifikasi UMKM, MiniesQ Sukses Tembus Pasar Ritel Modern
-
Lotte Chemical Indonesia Prioritaskan Pasokan Domestik di Tengah Krisis Rantai Pasok Global
-
Purbaya Klaim MBG Bantu Dorong Ekonomi RI 1 Persen karena Serap 1 Juta Tenaga Kerja
-
FTSE Pertahankan Status Indonesia, Reformasi Pasar Modal Diakui Dunia
-
Purbaya Siapkan Lowongan Kerja Bea Cukai untuk 300 Lulusan SMA, Diumumkan Mei 2026
-
Gelar 206 Proyek di Bali, Kementerian PU Kucurkan Rp1,2 Triliun pada 2026
-
Ketergantungan Impor LPG RI Makin Dalam, Tembus 83,97% di 2026
-
Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
-
OJK Yakin Pasar Modal RI Kembali Dibanjiri Investor Setelah Status FTSE
-
Kemendag Rilis 2 Aturan Baru, Perizinan Ekspor Kini Nggak Berbelit-belit