- Rupiah ditutup melemah 0,09 persen pada Senin, 5 Januari 2026, mencapai Rp 16.740 per USD.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen global terkait penangkapan Presiden Venezuela dan data neraca perdagangan mengecewakan.
- Mata uang Asia umumnya cenderung melemah, kecuali baht Thailand yang mengalami penguatan terbesar pada hari tersebut.
Suara.com - Nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahan pada penutupan Senin, 5 Januari 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.740 per USD
Alhasil, rupiah melemah 0,09 persen dibanding penutupan pada Jumat yang berada di level Rp 16.725 per USD.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 16.748 per USD.
Saat ini pergerakan mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan melemah. Salah satunya, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup anjlok 0,41 persen. Disusul, ringgit Malaysia ambles 0,37 persen.
Selanjutnya ada dolar Taiwan yang ditutup terkoreksi 0,26 persen dan won Korea Selatan yang tertekan 0,13 persen.
Lalu rupee India yang tergelincir 0,09 persen. Berikutnya, yen Jepang yang turun 0,09 persen dan dolar Singapura yang melemah tipis 0,06 persen pada hari ini.
Sedangkan, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,5 persen.
Kemudian, ada yuan China yang naik 0,11 persen dan dolar Hongkong yang menguat tipis 0,06 persen terhadap the greenback.
Sentimen Pelemahan Rupiah
Baca Juga: Rupiah Masih Meloyo, Cek Kurs Dolar AS Hari Ini di Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah dikarenakan sentimen global dan dalam negeri.
Salah satunya, mengenai penangkapan Presiden Venezuela yang dilakukan oleh Trump hingga data neraca perdagangan Indonesia yang diumumkan oleh BPS.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS yang menguat secara luas paska penangkapan Maduro. Data perdagangan Indonesia bulan November yang mengecewakan dan di bawah harapan ikut menekan rupiah," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia mengatakan rupiah tentunya masih berpotensi melanjutkan pelemahan. Bahkan diprediksi akan menembus USD Rp 17.000 ribu.
"Namun di level-level penting mendekati Rp 17.000 sangat besar kemungkinan BI akan kembali intervensi," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut
-
Ini Strategi BTN Salurkan Kredit Perumahan Bagi Masyarakat
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!