Bisnis / Makro
Senin, 05 Januari 2026 | 19:25 WIB
Warga berjalan di antara gelondongan kayu pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025). [Antara]
Baca 10 detik
  • BPS mencatat tiga provinsi Sumatera, yaitu Aceh, Sumut, dan Sumbar, mengalami inflasi tahunan akibat bencana alam.
  • Inflasi tertinggi nasional terjadi di Aceh sebesar 6,71% dipicu kenaikan harga kelompok makanan dan bahan pangan.
  • Deputi BPS Pudji Ismartini menyampaikan data inflasi ini di Jakarta pada Senin, 5 Januari 2026.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 3 provinsi di Sumatera mengalami inflasi tahunan pada Desember 2025, di tengah dampak bencana banjir bandang hingga longsor yang terjadi sejak akhir November tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Pudji Ismartini, menyebut tiga provinsi tersebut adalah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menurut dia, ketiga provinsi itu masuk dalam kelompok wilayah dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia.

"Untuk Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ini mengalami inflasi di Desember (2025), setelah sebelumnya deflasi di November 2025. Ketiga provinsi ini termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi," katanya di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).

Warga di Gampong Kubu Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, memasak di dapur umum. Mereka dalam kondisi darurat terutama air bersih dan sanitasi. [dokumentasi warga]

Pudji menjelaskan, inflasi di tiga provinsi tersebut erat kaitannya dengan kenaikan harga sejumlah komoditas. Kenaikan harga terjadi seiring gangguan distribusi dan pasokan akibat bencana banjir bandang hingga longsor yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November 2025.

Berdasarkan catatan BPS, secara umum kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

"Seperti di Aceh yang utamanya didorong oleh kenaikan harga beras, kemudian Sumatera Utara didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, serta inflasi di Sumatera Barat yang utamanya didorong oleh bawang merah," papar Pudji.

Ia menambahkan, jika dibandingkan secara nasional, Aceh tercatat sebagai provinsi dengan inflasi tahunan paling tinggi. Inflasi year on year di Aceh mencapai 6,71 persen.

Sementara itu, provinsi dengan tingkat inflasi tahunan terendah terjadi di Sulawesi Utara, yakni sebesar 1,23 persen. 

Baca Juga: Inflasi Tahun 2025 Tembus 0,64%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pemicu Utama

Perbedaan ini menunjukkan adanya ketimpangan tekanan harga antarwilayah.

Pada level kabupaten dan kota, inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kota Gunungsitoli sebesar 10,84 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) mencapai 119,24.

Adapun inflasi kabupaten dan kota tahunan terendah terjadi di Kabupaten Minahasa Utara dan Maumere, masing-masing sebesar 0,38 persen. IHK di Minahasa Utara tercatat 111,03, sedangkan di Maumere sebesar 109,62.

"Secara tahunan kita bisa lihat bahwa seluruh provinsi mengalami inflasi dan inflasi tertinggi terjadi di Aceh, yaitu sebesar 6,71 persen serta inflasi terendah terjadi di Sulawesi Utara, yaitu sebesar 1,23 persen," tutur Pudji.

Sebelumnya, BPS juga mencatat inflasi bulanan atau month to month Desember 2025 terhadap November 2025 mencapai 0,64 persen.

Selain itu, inflasi tahunan Desember 2025 terhadap Desember 2024 tercatat sebesar 2,92 persen. Angka yang sama juga terjadi pada inflasi tahun kalender atau year to date sepanjang 2025.

Load More