- Menteri ESDM Bahlil meminta waktu satu bulan kepada CEO BPI Danantara Rosan Roeslani untuk finalisasi proyek hilirisasi batubara jadi DME.
- Proyek hilirisasi batubara menjadi DME merupakan strategi pemerintah guna mengurangi ketergantungan pada impor LPG.
- Pemerintah berencana melaksanakan *groundbreaking* enam dari 18 proyek hilirisasi, termasuk DME, pada Januari ini.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, buka soal suara soal tindak lanjut proyek hilirisasi batubara menjadi dimetil eter atau DME.
Bahlil meminta diberi waktu satu bulan untuk memfinalisasi proyek tersebut dengan Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani.
"Kasihkan saya waktu untuk satu bulan lagi untuk mendetailkan. Saya dengan Pak Rosan nanti akan menyelesaikan dalam kurun waktu satu bulan," kata Bahlil kepada wartawan usai retret di Hambalang, Jawa Barat yang dikutip pada Rabu (7/1/2026).
Sebagaimana diketahui, hilirisasi batubara menjadi DME merupakan salah satu upaya pemerintah untuk substitusi liquified petroleum gas atau LPG (LPG).
Langkah itu menjadi salah satu strategi untuk menekan ketergantungan impor LPG.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan pemerintah akan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking 6 dari 18 proyek hilirisasi, termasuk hilirisasi batubara menjadi DME pada Januari ini.
"Kemudian juga ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, pembangunan beberapa titik DME," kata Prasetyo.
Dalam proyek DME terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi pemerintah, salah satunya nilai keekonomiannya.
Senior Director Oil & Gas and Petrochemicals Danantara, Wiko Migantoro, mengatakan, dibutuhkan intervensi dari pemerintah agar harga jual DME bisa lebih murah dari LPG.
Baca Juga: Diskon Listrik Awal Tahun, Bahlil: Belum Ada Pembahasan!
"Banyak yang harus dijahit di sini agar harga DME ini bisa memenuhi ekspektasi market. Karena kalau dibiarkan tanpa intervensi pemerintah, diperkirakan harga DME ini sedikit lebih mahal bila dibandingkan dengan LPG," kata Wiko, beberapa waktu lalu.
Berita Terkait
-
Bahlil Sebut Lifting Minyak 2025 Penuhi Target: 605 Ribu Barel per Hari
-
Aplikasi GeoRIMA: Permudah Investor Lacak Sebaran Potensi Minerba dan Gas Bumi di Indonesia!
-
Lompati Target, Setoran PNBP Sektor Minerba Telah Tembus Rp 124,63 Triliun
-
Ramai Foto Gundul di Lereng Gunung Slamet, Ini Penjelasan ESDM soal WKP Baturaden
-
Selain Stop Impor, Bahlil Berambisi Tingkatkan Kualitas Solar jadi Euro 5
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
Pilihan
Terkini
-
Harga Minyak Dunia Naik Tipis: Stok AS Merosot di Tengah Ambisi Trump Kuasai Minyak Venezuela
-
Pakar Ingatkan Bahaya Kriminalisasi Kebijakan bagi Sebuah Inovasi
-
Masih Sakit, Rupiah Makin Dekati Level Rp16.800 per Dolar AS Hari ini
-
Harga Emas Antam Ambruk, Hari Ini Dibanderol Rp 2,57 Juta per Gram
-
Fakta-fakta Ekspansi NINE: Benarkah Akuisisi Tambang Mongolia Senilai Rp1,6 Triliun
-
IHSG Masih Betah Menghijau Pagi Ini ke Level 8.946
-
Presiden Prabowo Diperingatkan, Pengangguran Muda dan Terdidik Bisa Picu Ledakan Kekecewaan
-
Diganti per 1 Januari, Simak Perbedaan JIBOR dan INDONIA
-
Danantara Bagi-bagi Porsi Saham BRI, BNI, Bank Mandiri ke BP BUMN
-
Rekomendasi Saham-saham Hari Ini, Cek Ada yang Lepas Suspend BEI