- Harga minyak dunia terkoreksi lebih dari dua persen di pasar Asia pada Kamis, 15 Januari 2026 akibat pernyataan Presiden Trump.
- Penurunan harga dipicu meredanya ketegangan Iran, kenaikan signifikan cadangan minyak AS, dan peningkatan produksi Venezuela.
- Minyak Brent dan WTI turun signifikan, sementara prospek permintaan OPEC 2027 diprediksi stabil, berbeda dengan lonjakan impor China.
Suara.com - Harga minyak dunia terkoreksi hingga lebih 2 persen di pasar Asia pada Kamis, 15 Januari 2026.
Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan meredanya ketegangan di Iran, sehingga mengurangi kekhawatiran investor terhadap potensi konflik militer dan terhambatnya distribusi minyak.
Mengutip dari Reuters, Minyak mentah Brent turun sebesar 1,67 dolar AS atau 2,5 persen menjadi 64,85 dolar AS per barel pada pukul 01.09 GMT atau 08.09 WIB.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 1,54 dolar AS atau 2,5 persen, menjadi 60,48 dolar AS per barel.
Kedua indeks acuan tersebut ditutup menguat lebih dari 1 persen pada hari Rabu, namun kehilangan sebagian besar keuntungan setelah pernyataan Trump mengurangi kekhawatiran akan potensi serangan AS terhadap Iran.
Dalam keterangannya pada Rabu sore, Presiden Trump menyebutkan, adanya laporan bahwa kekerasan terhadap demonstran anti-pemerintah di Iran telah berkurang.
Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa pihak berwenang di sana tidak merencanakan eksekusi massal.
Hiroyuki Kikukawa, dari Nissan Securities Investment, mengatakan harga minyak mengalami tekanan jual karena pasar meyakini AS tidak akan menyerang Iran.
Katanya, kenaikan cadangan minyak mentah AS yang melampaui estimasi turut menekan harga.
Baca Juga: Situasi Iran Memanas: Renggut Ribuan Jiwa, Deretan Korban Penuhi Area Forensik Teheran
"Meskipun risiko geopolitik tetap tinggi dan peristiwa tak terduga dapat mengganggu keseimbangan penawaran dan permintaan, WTI kemungkinan akan diperdagangkan dalam kisaran $55-$65 untuk sementara waktu," ujar Kikukawa.
Sementara itu, seorang pejabat AS mengonfirmasi, penarikan sejumlah personel militer dari pangkalan di Timur Tengah pada Rabu lalu.
Langkah ini diambil menyusul ancaman Teheran yang akan menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika jika Washington melancarkan serangan.
Sentimen negatif pada harga minyak juga diperkuat oleh data Badan Informasi Energi (EIA) yang menunjukkan kenaikan cadangan minyak dan bensin AS melampaui prediksi pasar.
Alih-alih menyusut sebesar 1,7 juta barel seperti yang diperkirakan para analis, stok minyak mentah AS justru melonjak drastis sebanyak 3,4 juta barel, sehingga total cadangan saat ini mencapai 422,4 juta barel per 9 Januari.
Di samping itu, sentimen negatif di pasar minyak semakin diperkuat oleh laporan bahwa Venezuela mulai meningkatkan produksinya kembali.
Berita Terkait
-
Aksi Solidaritas untuk Venezuela di Kedubes Amerika
-
Purbaya Pede IHSG dan Rupiah Aman di Tengah Konflik AS-Venezuela
-
Konflik AS-Venezuela, Purbaya: Hukum Dunia Aneh, PBB Lemah Sekarang
-
Harga Minyak Dunia Justru Melorot di Tengah Panasnya Penangkapan Presiden Maduro
-
Klaim Belum Berdampak, ESDM: Sumber Minyak RI Bukan dari Venezuela
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Tak Cukup Kasih Modal, UMKM Perlu Akses Pasar Agar Naik Kelas
-
S&P Sorot Rasio Utang RI, Purbaya Klaim Belum di Level Berbahaya
-
Laba Emiten Hary Tanoe Terbang 140 Persen
-
Gak Cuma Murah, Minyak Rusia Ternyata 'Jodoh' Buat Kilang Pertamina
-
OJK dan BEI Bongkar Data Pemilik Saham RI, Berharap Genjot Transparansi
-
Produksi Cat Nasional Tembus 1,5 Juta Ton, Pemerintah Soroti Pentingnya Keamanan Produk
-
Cara Perusahaan Asuransi Genjot Penetrasi Layanan
-
Direksi BUMN Karya Dipanggil Dony Oskaria Satu per Satu, Tentukan Nasib Restrukturisasi
-
420 Siswa Ikuti Program CyberHeroes Telkom, Bangun Kesadaran Keamanan Digital
-
Rupiah Masih di Zona Bahaya Rp 17.138