- Realisasi KIPK 2025 sangat rendah (2,09 persen) padahal program ditujukan bagi industri padat karya.
- KIPK memberikan subsidi bunga 5 persen untuk kredit mesin dengan plafon Rp10 Miliar maksimal.
- Rendahnya penyaluran disebabkan kendala teknis seperti finalisasi juklak bank penyalur dan sosialisasi.
Suara.com - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap rendahnya realisasi penyaluran Kredit Industri Padat Karya (KIPK) sepanjang 2025. Padahal, program tersebut disiapkan untuk memperkuat daya saing dan produktivitas industri, terutama industri kecil berbasis padat karya.
Agus menjelaskan, KIPK dirancang dalam bentuk subsidi bunga kredit bagi pelaku industri yang melakukan pembelian mesin produksi melalui skema kredit investasi maupun kombinasi kredit investasi dan kredit modal kerja.
"Program ini dilaksanakan melalui pemberian subsidi bunga kredit bagi para pelaku industri yang melakukan pembelian mesin, pembelian mesin produksi melalui skema kredit investasi atau kombinasi kredit investasi dan kredit modal kerja," kata Agus dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Senin (26/1/2026).
Dalam skema KIPK, pembiayaan diberikan dengan plafon Rp500 juta hingga Rp10 miliar. Pemerintah juga menyiapkan subsidi bunga sebesar 5 persen per tahun.
"Pembiayaan diberikan dengan plafon di atas 500 sampai 1 Miliar, 500 sampai 10 Miliar Rupiah, disertai subsidi bunga sebesar 5% per tahun," ujarnya.
Agus menyebut, suku bunga yang dibebankan kepada debitur merupakan selisih antara bunga bank dan subsidi pemerintah. Sementara jangka waktu pembiayaan dapat mencapai 8 tahun, termasuk kemungkinan suplesi, perpanjangan, hingga restrukturisasi.
Program ini menyasar industri padat karya pada sektor makanan minuman, tekstil, pakaian jadi, furnitur, kulit dan alas kaki, hingga mainan anak. Agus menyebut program ini mencakup 157 KBLI.
"Skema ini menyasar industri padat karya, industri kecil berbasis padat karya untuk sektor-sektor makanan minuman, tekstil, pakaian jadi, furnitur, kulit dan alas kaki, serta mainan anak. Dan ini mencakup 157 KBLI," kata Agus.
Meski sudah di-kick off sejak tahun lalu, Agus mengakui penyaluran KIPK 2025 masih menghadapi banyak persoalan. Hingga Desember 2025, plafon pembiayaan KIPK yang disiapkan sebesar Rp787 miliar, namun realisasinya baru Rp16,45 miliar.
Baca Juga: Menperin Minta Insentif Sektor Otomotif ke Purbaya untuk Cegah PHK
"Realizasiny atau realisasi penyalurannya baru 16,45 Miliar atau 2,09%," ucapnya.
Tak hanya itu, realisasi anggaran subsidi bunga KIPK juga sangat rendah. Agus menyebut anggaran subsidi bunga tahun 2025 sebesar Rp4,9 miliar baru terealisasi Rp13,67 juta.
"Sementara itu anggaran subsidi bunga tahun 2025 sebesar 4,9 Miliar baru terealisasi 13,67 juta atau 0,27 persen," ujarnya.
Agus menjelaskan, rendahnya realisasi KIPK dipengaruhi kendala teknis dan kelembagaan. Salah satunya belum tuntasnya finalisasi petunjuk pelaksana di internal bank penyalur.
"Antara lain, belum tuntasnya finalisasi petunjuk pelaksana di internal bank penyalur," kata Agus.
Selain itu, perjanjian kerja sama antara bank penyalur dengan lembaga penjamin dan asuransi KIPK juga belum selesai. Kendala lain terkait kesepakatan porsi imbal jasa penjaminan.
"Belum selesainya perjanjian kerja sama antara bank penyalur dengan lembaga penjamin dan asuransi KIPK terkait, kesepakatan porsi imbal jasa penjaminan," jelasnya.
Agus menambahkan, integrasi sistem host to host perbankan dengan Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) juga belum tuntas. Ditambah keterbatasan sosialisasi program hingga tingkat cabang.
Berita Terkait
-
Menperin Agus: Manufaktur Pecah Rekor 14 Tahun, Tumbuh 5,58 Persen Lampaui Ekonomi Nasional
-
Utilisasi Baru 43%, Kemenperin Pacu Industrialisasi Pati Ubi Kayu Nasional
-
Menperin: BUMN Tekstil Disiapkan, Dana Rp 100 Triliun Akan Digelontorkan
-
Kemenperin Siapkan Aturan Baru PPBB, IKM Dijanjikan Akses Bahan Baku Impor Lebih Mudah
-
Menperin Pede Industri Manufaktur Bisa Tumbuh di Atas 5% Meski Ekonomi Global Gonjang-Ganjing
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
Pilihan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
-
H-135 Kick Off Piala Dunia 2026, Dua Negara Ini Harus Tempuh Perjalanan 15.000 KM
-
5 Rekomendasi HP RAM 12 GB Paling Murah, Cocok buat Gaming dan Multitasking
-
Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas
-
Sah! Komisi XI DPR Pilih Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Kementerian PU Mulai Tambal Lubang Jalan Nasional di Aceh Tamiang Pascabencana
-
Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Pelindo dan Kemenhub Kembangkan Kawasan Pesisir serta Pelabuhan Laut
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
-
Distribusi Pulih, Harga Pangan di Wilayah Bencana Aceh-Sumut-Sumbar Mulai Melandai
-
BUMI vs CDIA, Saham Mana yang Lebih Siap Masuk MSCI Standard Index?
-
Penyebab Harga Minyak Dunia Melemah Hari Ini
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI, Apa yang Terjadi saat Independensi Bank Sentral Hilang?
-
Jangan Salah Pilih! Ini 6 Perbedaan Utama Paylater dan Kartu Kredit
-
Harapan Purbaya ke Ponakan Prabowo Setelah Resmi Masuk BI, Bantah Fiskal Kuasai Moneter
-
Profil Pengusaha di Balik Emiten ZINC, Harga Sahamnya Mendadak Curi Perhatian