- Menperin optimistis industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen pada 2026, menjadi motor ekonomi meskipun ketidakpastian global.
- Kebijakan manufaktur 2026 fokus pada penguatan nilai tambah domestik, pendalaman struktur, didukung investasi Rp 551,88 triliun.
- Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) mendorong konektivitas hulu-hilir untuk mendukung prioritas pemerintah seperti kemandirian energi dan pangan.
Suara.com - Pemerintah menegaskan fondasi manufaktur tetap kuat untuk menjaga pertumbuhan dan berkontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional sepanjang 2026. Meskipun, di tengah ketidakpastian perekonomian global.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut industri manufaktur masih menjadi motor penggerak perekonomian. Ia optimistis, kinerja sektor ini bisa terus dijaga di tengah dinamika global yang masih fluktuatif.
"Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026," ujar Agus kepada wartawan, Senin (19/1/2025).
Agus menjelaskan, arah kebijakan industri manufaktur pada 2026 tidak hanya menjaga momentum pertumbuhan, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan. Fokusnya mencakup penguatan nilai tambah di dalam negeri, pendalaman struktur industri, hingga optimalisasi keterkaitan antarsektor.
Pada 2026, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai 5,51 persen. Target tersebut sekaligus menegaskan peran strategis industri manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kementerian Perindustrian memproyeksikan kapasitas produksi industri nasional pada 2026 akan semakin menguat. Berdasarkan data per 15 Januari 2026, terdapat 1.236 perusahaan industri yang melaporkan tahap pembangunan pada 2025 dan direncanakan mulai berproduksi pertama kali pada 2026.
Rencana produksi dari ribuan perusahaan tersebut diperkirakan menyerap 218.892 tenaga kerja. Dari sisi investasi, sektor industri pengolahan nonmigas tercatat mencapai Rp 551,88 triliun, dengan nilai investasi di luar tanah dan bangunan sebesar Rp 444,25 triliun.
"Kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2026 menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja baru," ucap Agus.
Selain menambah kapasitas produksi, Kemenperin juga mendorong percepatan industrialisasi, transformasi industri 4.0, serta penguatan industri hulu hingga hilir. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan efisiensi rantai produksi nasional.
Baca Juga: Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
Dari sisi permintaan, pertumbuhan industri manufaktur nasional pada 2026 diperkirakan masih ditopang oleh pasar domestik sekitar 80 persen, sementara kontribusi pasar ekspor sekitar 20 persen.
Untuk memperkuat pasar domestik, Kemenperin menyiapkan sejumlah kebijakan. Di antaranya penguatan substitusi impor dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN untuk produk dalam negeri, serta penguatan IKM agar terhubung ke rantai pasok industri nasional.
"Kami memastikan produk industri dalam negeri menjadi tuan rumah di pasar domestik. Penguatan pasar dalam negeri menjadi jangkar utama pertumbuhan industri manufaktur," ungkap Agus.
Kemenperin memprediksi beberapa subsektor akan mengalami pertumbuhan permintaan yang signifikan di pasar domestik. Industri logam dasar diproyeksikan tumbuh tinggi seiring berlanjutnya proyek infrastruktur dan hilirisasi industri, sementara industri makanan dan minuman tetap menjadi kontributor terbesar PDB manufaktur karena kebutuhan pokok dan besarnya jumlah penduduk.
Selain itu, sektor industri kimia, farmasi, dan obat juga diperkirakan tumbuh tinggi. Permintaan domestik untuk produk kesehatan dan bahan kimia industri dinilai terus meningkat, sejalan dengan meningkatnya kesadaran kesehatan pascapandemi serta pertumbuhan industri turunan.
Sementara untuk pasar ekspor, Kemenperin menargetkan kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas pada 2026 mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional. Target itu tercantum dalam Rencana Strategis Kemenperin 2025–2029.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
-
Jelang Kunjungan Prabowo ke Inggris, Trah Sultan HB II Tolak Keras Kerja Sama Strategis! Ada Apa?
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
Terkini
-
Bocoran dari Bos BEI, Ada Perusahaan Konglo Mau IPO Tahun 2026
-
YLKI Nilai Skema Tadpole di Pindar Picu Risiko Gagal Bayar Meningkat
-
IHSG Cetak Sejarah Lagi, Melesat ke Level 9.100
-
FSRU Lampung Resmi Beroperasi 2026, PGN LNG Siap Pasok Gas JawaSumatera
-
Di Tengah Penyelesaian Serah terima Hunian, Meikarta Mulai Hidupkan Kawasan Sekitar
-
BPH Migas Bongkar Pengelewengan BBM Subsidi di Lhokseumawe Aceh
-
Ketika Kas Negara Tekor Rp 695 Triliun, Apa Urusannya dengan Anda?
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Emiten ZATA Harganya Meroket, Ini Dia Sosok Saudagar Pemegang Sahamnya