Bisnis / Makro
Senin, 09 Februari 2026 | 16:24 WIB
Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (9/2/2026). [Antara]
Baca 10 detik
  • Rupiah menguat 0,42 persen menjadi Rp16.805 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 9 Februari 2026.
  • Penguatan rupiah didukung sentimen global positif dan tekanan pada dolar AS serta data keyakinan konsumen naik.
  • Rupiah berpotensi melemah karena antisipasi investor terhadap data pekerjaan dan inflasi Amerika Serikat pekan ini.

Suara.com - Nilai tukar rupiah mulai bangkit terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Senin (9/2/2026) nilai tukar rupiah menguat 0,42 persen dibandingkan penutupan Jumat (6/2/2026) ke 16.805 per dolar AS. Sementara itu kurs JISDOR Bank Indonesia ada di level Rp16.838.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah disebabkan sentimen global dan dolar AS yang tertekan.

"Rupiah menguat terhadap dolar AS didukung oleh sentimen risk on global yang kuat," katanya saat dihubungi Suara.com di Jakarta, Senin.

Selain itu data survei keyakinan konsumen yang baru dirilis mendapatkan kepercayaan dari investor.

Sebelumnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru menunjukkan kenaikan 3,5 poin, dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026. Level IKK ini menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir atau sejak Januari 2025 (127,2 poin).

Survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) itu menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi mereka terhadap masa depan. IKK merupakan indikator yang dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan konsumsi dan tabungan rumah tangga.

"Survei Konsumen Bank Indonesia pada Januari 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Senin.

Namun, rupiah masih berpotensi melemah. Ha itu dipengaruhi oleh saham-saham teknologi Amerika Serikat.

"Sulit bagi rupiah untuk kembali menguat, mengingat sentimen risk on ini juga sebatas dampak dari bargain hunting saham-saham teknologi AS. Selain itu investor juga masih akan menghadapi data pekerjaan NFP dan inflasi AS pekan ini," jelas Lukman.

Baca Juga: Rupiah Terpeleset Jatuh Setelah Ada Kabar Misbakhun Jadi Calon Ketua OJK

Sementara itu, nilai tukar mata uang di Asia bervariasi. Baht Thailand mencatat penguatan terbesar yakni 1,04 persen, disusul ringgit Malaysia menguat 0,36 persen.

Lalu, yen Jepang menguat 0,31 persen, dolar Taiwan menguat 0,30 persen. Diikuti peso Filipina menguat 0,21 persen, dolar Singapura menguat 0,19 persen dan yuan China menguat 0,10 persen. Won Korea menguat 0,06 persen dan rupee India naik 0,05 persen terhadap dolar AS.

Sedangkan, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dolar AS sore ini dengan pelemahan 0,03 persen.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Utama dunia ada di 97,35, turun dari akhir pekan lalu yang ada di 97,63.

Load More