- FTSE Russell menunda peninjauan indeks Indonesia Maret 2026 karena ketidakpastian porsi saham publik dan reformasi bursa.
- Penangguhan ini menghentikan rebalancing, pembekuan perubahan segmen saham, dan penyesuaian bobot investasi indeks.
- Keputusan ini didasari kekhawatiran metodologi *free float* baru yang berpotensi menimbulkan *turnover* tidak terukur di pasar.
Suara.com - Lembaga penyedia indeks global, FTSE Russell, secara resmi mengumumkan penundaan peninjauan (review) indeks Indonesia (IHSG) untuk periode Maret 2026.
Langkah ini diambil menyusul tingginya ketidakpastian terkait penentuan porsi saham publik (free float) serta potensi gangguan perdagangan di tengah proses reformasi besar-besaran yang sedang dilakukan otoritas bursa.
Keputusan penangguhan ini didasarkan pada masukan dari Komite Penasihat Eksternal (External Advisory Committees) yang mencermati rencana kebijakan baru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak akhir Januari 2026 lalu.
Aturan Exceptional Market Disruption
Dalam pengumuman resminya, FTSE Russell merujuk pada Aturan 2.4 mengenai Exceptional Market Disruption. Kebijakan ini diberlakukan apabila kondisi pasar dinilai tidak memungkinkan bagi klien atau investor untuk melakukan transaksi secara optimal.
Dampak langsung dari keputusan ini meliputi:
- Penghentian Rebalancing: Tidak akan ada penambahan atau penghapusan saham emiten Indonesia dalam indeks FTSE untuk sementara waktu.
- Pembekuan Perubahan Segmen: Perubahan klasifikasi saham dari kapitalisasi besar (big cap), menengah, hingga kecil ditangguhkan.
- Penundaan Penyesuaian Bobot: Aksi korporasi seperti right issue, perubahan jumlah saham beredar, serta penyesuaian bobot investasi tidak akan diterapkan hingga situasi dinilai lebih stabil.
Meski demikian, FTSE Russell tetap akan menghapus emiten yang mengalami kondisi khusus seperti merger, kebangkrutan, delisting, atau suspensi permanen. Pembagian dividen, baik reguler maupun spesial, juga tetap diproses sesuai jadwal.
Penundaan ini mencerminkan kekhawatiran global terhadap metodologi penentuan free float yang tengah digodok pemerintah.
FTSE Russell mengkhawatirkan adanya lonjakan perputaran modal (turnover) yang tidak terukur dan ketidakjelasan porsi saham yang benar-benar bisa diperdagangkan oleh publik.
Baca Juga: IHSG Langsung Ambruk di Bawah 8.000 Setelah Moody's Turunkan Outlook Rating
Langkah FTSE Russell ini memperpanjang deretan sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia.
Sebelumnya, sejumlah lembaga keuangan raksasa seperti Goldman Sachs, UBS, Moody’s, hingga Nomura mulai mengambil sikap waspada.
Hal ini dipicu oleh peringatan keras dari MSCI yang bahkan sempat menyinggung potensi penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (Emerging Market) menjadi pasar perbatasan (Frontier Market).
Otoritas bursa kini berpacu dengan waktu untuk memberikan kepastian regulasi. FTSE Russell menyatakan akan terus memantau perkembangan reformasi di Jakarta dan berjanji memberikan informasi terbaru menjelang evaluasi kuartalan berikutnya.
"Pembaruan informasi akan disampaikan menjelang pengumuman peninjauan kuartalan FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Juni 2026, yang dijadwalkan pada Jumat, 22 Mei 2026," tulis pernyataan resmi tersebut, Selasa (10/2/2026).
Berita Terkait
-
BEI Temui MSCI Pekan Ini, Bahas Transparansi Pemegang Saham
-
IHSG Akhirnya Rebound ke Level 8.000, Cek Saham yang Cuan
-
IHSG Rebound ke Level 8.000 di Sesi I, 440 Saham Hijau
-
Profil Moody's Rating dan Dampaknya Terhadap Bursa Saham Indonesia
-
Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
Pilihan
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
Terkini
-
Survei BI : Keyakinan Konsumen Terhadap Kondisi Ekonomi Meningkat
-
BEI Temui MSCI Pekan Ini, Bahas Transparansi Pemegang Saham
-
Kapan Demutualisasi Bursa Efek Indonesia Dilaksanakan?
-
Harga Emas Naik Semua di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Kompak Menguat
-
BRI Targetkan Rp8 Triliun Penyaluran Kredit Perumahan Tahun 2026
-
Persiapan Gentengisasi, Menteri PKP Bakal Temui Pengusaha Genteng di Majalengka
-
Aturan Baru Free Float Saham Saat IPO, Kapitalisasi Pasar Disorot
-
BRI Dukung Asta Cita, Salurkan Rp1,774 T untuk Program 3 Juta Rumah
-
Waspada! Modus Phishing hingga Social Engineering Masih Intai Nasabah Bank
-
Pemerintah Klaim Harga Pangan Masih Stabil Jelang Imlek dan Ramadan