- Kementerian Keuangan Israel melaporkan kerugian ekonomi mencapai 9,4 miliar shekel per minggu akibat eskalasi konflik udara.
- Pembatasan status siaga "Merah" memicu penutupan sekolah serta pembatasan mobilitas pekerja produktif.
- Peralihan status siaga menjadi "Oranye" diharapkan menurunkan kerugian mingguan menjadi 4,3 miliar shekel.
Suara.com - Kementerian Keuangan Israel merilis laporan suram mengenai dampak finansial dari eskalasi perang udara yang sedang berlangsung melawan Iran.
Berdasarkan data yang dipaparkan pada Rabu (4/3/2026), kerusakan ekonomi yang diderita negara tersebut diperkirakan menembus angka 9,4 miliar shekel atau setara dengan Rp45,12 triliun setiap minggunya.
Lonjakan kerugian fantastis ini merupakan konsekuensi langsung dari penerapan pembatasan ketat kategori "Merah" oleh Home Front Command Israel.
Status siaga tertinggi ini memaksa penutupan institusi pendidikan secara total, pembatasan mobilitas pekerja, hingga mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan yang ditarik dari sektor-sektor produktif.
Menyikapi potensi kebangkrutan sistemik, Kementerian Keuangan Israel dilaporkan telah mendesak pihak keamanan untuk menurunkan status pembatasan dari "Merah" menjadi "Oranye".
Dalam skenario "Oranye" atau aktivitas terbatas, ekonomi diharapkan bisa lebih bernapas karena tempat kerja diizinkan beroperasi dengan protokol tertentu.
Jika transisi ke status "Oranye" berhasil dilakukan, estimasi kerugian ekonomi diprediksi dapat ditekan hingga menjadi 4,3 miliar shekel (sekitar Rp20,6 triliun) per minggu.
Namun, keputusan ini sepenuhnya bergantung pada intensitas serangan balasan yang datang dari wilayah Iran dan sekutunya.
Laporan Reuters menyebutkan, agenda militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dimulai sejak Sabtu lalu melalui serangan udara ke wilayah Iran.
Baca Juga: Berapa Cadangan Minyak Indonesia? Bahlil Ngaku Optimis Tak Terdampak Perang AS-Iran
Aksi ini memicu gelombang balasan yang menghantam berbagai titik di Israel dan seluruh kawasan Timur Tengah.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekonomi lokal, tetapi juga menjalar ke pasar global akibat terganggunya jalur ekspor energi di kawasan Teluk.
Pejabat senior dari AS dan Israel memperingatkan bahwa kampanye militer ini kemungkinan besar tidak akan selesai dalam waktu singkat dan bisa berlangsung selama berpekan-pekan.
Saat ini, kehidupan di kota-kota besar Israel praktis terhenti. Sekolah-sekolah masih ditutup rapat, acara publik dilarang, dan aktivitas perkantoran dilarang kecuali untuk layanan esensial.
Sebagian besar karyawan sektor swasta kini terpaksa melakukan pekerjaan dari rumah (work from home), yang secara teknis menurunkan produktivitas di sektor industri berat dan manufaktur.
Padahal, ekonomi Israel baru saja menunjukkan tren pemulihan pasca konflik dengan Hamas di Gaza. Pada tahun 2025, ekonomi Israel masih mampu tumbuh sebesar 3,1%.
Setelah adanya gencatan senjata pada Oktober lalu, para analis semula memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih optimistis, yakni di atas 5% pada tahun 2026.
Namun, pecahnya perang dengan Iran kini memupus harapan tersebut dan justru mengancam negara pada jurang resesi.
Berita Terkait
-
Tanah Air Porak Poranda, Sara Didar Tahan Tangis Demi Asa Timnas Putri Iran di Piala Asia
-
Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Samudera Hindia
-
Militer AS Klaim Tewaskan Pejabat Iran yang Diduga Terlibat dalam Rencana Pembunuhan Donald Trump
-
Menlu Sugiono Kirim Surat Belasungkawa Wafatnya Ali Khamenei ke Dubes Iran, Ini Alasannya
-
Operation Epic Fury, AS Kerahkan 50 Ribu Tentara dan 200 Jet Tempur Gempur Iran dari 2 Kapal Induk
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub
-
Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI
-
Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK
-
Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029
-
Gaji Bukan Hambatan, Pep Guardiola Berpeluang Tangani Timnas Italia
-
Pakar Jelaskan Soal BPA pada Galon Guna Ulang, Benarkah Berbahaya?
-
Green Label Jadi Tren Baru Bangunan, Material Ramah Lingkungan Semakin Diminati
-
Mendagri Tito Heran Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Padahal Sudah Ikut Retret
-
Kriminolog: TPPU Pintu Masuk untuk Kasus Eks Jampidsus