Bisnis / Properti
Jum'at, 06 Maret 2026 | 13:34 WIB
Ilustrasi perumahan/KPR. [Antara]
Baca 10 detik
  • Harga bahan bangunan naik akibat inflasi energi, terutama pada komoditas semen.
  • Pengembang sulit naikkan harga saat pasar lesu, sehingga laba terancam tergerus.
  • Pemerintah perlu jaga daya beli agar konsumsi properti tetap dorong ekonomi nasional.

Suara.com - Sektor properti nasional tengah menghadapi tantangan ganda. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kenaikan harga bahan bangunan kini membayangi margin keuntungan para pengembang, terutama saat permintaan pasar belum sepenuhnya pulih.

Chief Economist sekaligus Kepala Divisi Riset Ekonomi Sarana Multiagri Finansial (SMF), Martin Daniel Siyaranamual, mengungkapkan bahwa inflasi pada sektor bahan baku konstruksi sudah menjadi realitas yang tidak terelakkan. Salah satu yang paling terdampak adalah komoditas semen.

"Bicara inflasi ini sudah pasti gitu, hari ini aja sudah ada di angka 4,7 persen seperti yang tadi sudah saya sampaikan," ujar Martin kepada wartawan di Jakarta, dikutip Jumat (6/3/2026).

Martin menjelaskan, tingginya harga bahan bangunan sangat berkorelasi dengan fluktuasi harga energi global. Industri semen, sebagai komponen vital pembangunan hunian, merupakan sektor padat energi yang sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar.

"Semen itu kan industri chemical, itu sangat-sangat erat hubungannya dengan harga energi. Jadi kalau harga energi naik, ya sudah barang tentu ada inflasi (pada produk turunannya)," jelasnya.

Persoalannya, kenaikan biaya produksi ini terjadi di waktu yang kurang tepat. Pengembang properti kini berada dalam posisi dilematis: menaikkan harga jual di tengah daya beli yang lesu, atau memangkas keuntungan demi menjaga volume penjualan.

Menurut Martin, dalam kondisi pasar yang normal atau kuat, pengembang biasanya bisa melakukan pass-through atau mengalihkan beban kenaikan biaya produksi langsung ke harga jual konsumen. Namun, strategi ini sulit diterapkan saat ini.

"Ketika permintaannya sedang melemah akibat ketidakpastian ini, maka sudah barang tentu kenaikan harga input produksi itu enggak bisa 100 persen di-pass through ke konsumen," kata Martin lagi.

Dampaknya sudah bisa ditebak. Jika harga jual tidak naik sementara biaya modal membengkak, maka margin laba pengembanglah yang harus dikorbankan. "Artinya apa? Artinya keuntungan dari developer itu yang akan tergerus," tegasnya.

Baca Juga: Mayoritas Pekerja RI Tak Punya Slip Gaji, Mimpi Punya Rumah Masih Jadi Barang Mewah?

Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, Martin menilai peran pemerintah sangat krusial. Stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat perlu terus diperkuat agar roda industri perumahan tetap berputar.

Ia meyakini, menjaga konsumsi di sektor properti akan memberikan efek domino yang positif bagi makroekonomi nasional.

"Ketika permintaan terjaga, harapannya konsumsi tetap tinggi. Konsumsi tetap tinggi, dia akan mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkas Martin.

Load More