- IHSG ditutup melemah signifikan 1,21% pada Kamis, 26 Maret 2026, dipicu tekanan makroekonomi Rupiah dan harga minyak.
- Sektor transportasi, dipimpin lonjakan saham GIAA 20,55%, menjadi satu-satunya sektor yang menguat signifikan di tengah pelemahan umum.
- Sektor perbankan utama seperti BMRI dan BBRI menjadi beban utama indeks, sementara total transaksi sesi I mencapai Rp25,95 triliun.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I pada Kamis, 26 Maret 2026, dengan catatan merah yang cukup dalam.
Sempat dibuka pada posisi 7.313,67, indeks terus merosot hingga ditutup melemah 88,04 poin atau turun 1,21% ke level 7.214,08.
Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi makroekonomi yang menantang. Nilai tukar Rupiah terpantau masih tertekan di level Rp16.885 per USD, sementara harga minyak mentah jenis Crude Oil WTI bertahan cukup tinggi di posisi $92,10 per barel.
Kondisi ini tampaknya menjadi pemicu aksi jual investor, terutama pada saham-samping berkapitalisasi besar (blue chip).
Sektor Transportasi Melawan Arus, GIAA Terbang
Meski indeks secara keseluruhan tertekan, sektor transportasi (IDXTRANS) tampil sebagai pemimpin pasar dengan penguatan signifikan sebesar 2,64%.
Lonjakan ini motori oleh performa luar biasa saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) yang melesat 20,55% ke level Rp88.
Selain transportasi, sektor kesehatan (IDXHLTH) juga mampu bertahan di zona hijau meski tipis dengan penguatan 0,01%. Beberapa saham seperti MTMH (16,24%) dan OMED (5,56%) menjadi penopang utama di sektor ini.
Perbankan Jadi Beban Indeks (Lagging Movers)
Baca Juga: Jangan Lupa! Besok Pasar Saham RI Kembali Dibuka, IHSG Diproyeksi Anjlok
Sektor perbankan yang biasanya menjadi penopang IHSG justru menjadi pemberat utama (lagging movers) pada siang hari ini. Penurunan dialami oleh raksasa perbankan tanah air:
BMRI (Bank Mandiri): Turun 1,41% ke level 4.900.
BBRI (Bank BRI): Turun 1,13% ke level 3.500.
TLKM (Telkom): Merosot 3,64% ke level 3.180.
ASII (Astra International): Anjlok 4,55% ke level 6.300.
Dari sisi nilai transaksi, saham BUMI mencatatkan aktivitas turnover tertinggi, meskipun harganya terkoreksi 2,65% ke posisi 220 per lembar saham.
Statistik Pasar Sesi I
Total nilai transaksi yang dibukukan pada sesi pertama ini mencapai Rp25,95 triliun, dengan rincian Rp6,90 triliun di pasar reguler dan Rp19,05 triliun di pasar negosiasi. Volume perdagangan mencapai 19,59 miliar saham.
Di barisan Top Gainers, saham TALF memimpin dengan kenaikan menyentuh batas atas 25,00%, disusul oleh SSTM (24,80%) dan POLI (24,04%). Sebaliknya, saham ROCK memimpin barisan Top Losers dengan koreksi tajam sebesar -15,00%.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Purbaya Terima Aduan 46 Ribu Masalah Ditjen Pajak dan Bea Cukai
-
Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI
-
Diproyeksi Masih Tertekan, Intip Ramalan Pergerakan IHSG Pekan Depan
-
Progres Pembangunan Pabrik Kimia Milik Chandra Asri Capai 66%
-
Nilai Tukar Rupiah Bisa Terus Melorot ke Level Rp 17.500 di Pekan Depan
-
UMKM Binaan Pertamina Raup Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026
-
Simulasi Pengajuan Cicilan KUR BRI Hingga Rp500 Juta untuk UMKM 2026
-
BI Lapor Uang Primer Tumbuh Melambat 14,3% pada April 2026
-
ASDP Masih Raih Pendapatan Rp 4,96 triliun pada 2025 di Tengah Tantangan Bisnis
-
OJK Restui Merger BPR Danaputra Sakti dengan BPR Harta Swadiri