Bisnis / Ekopol
Rabu, 08 April 2026 | 16:36 WIB
Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan lonjakan wisatawan memicu dampak negatif berupa kerusakan lingkungan, kemacetan, serta memicu keterpinggiran masyarakat lokal dalam berusaha di Pulau Dewata. [Antara]
Baca 10 detik
  • Gubernur Bali menyatakan kunjungan wisatawan tahun 2025 mencapai 16,3 juta orang, melampaui jumlah penduduk lokal sebanyak 4,4 juta jiwa.
  • Sektor pariwisata Bali memberikan kontribusi devisa nasional sebesar Rp176 triliun atau 55 persen dari total pendapatan wisata Indonesia.
  • Lonjakan wisatawan memicu dampak negatif berupa kerusakan lingkungan, kemacetan, serta memicu keterpinggiran masyarakat lokal dalam berusaha di Bali.

Suara.com - Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan penduduk Bali kini semakin terpinggirkan dan kian susah berusaha di tengah ledakan kunjungan turis atau wisatawan di Pulau Dewata.

Berbicara di hadapan Komisi V DPR, di Jakarta, Rabu (8/4/2026), Koster mengatakan jumlah turis di Bali kini hampir empat kali lipat dari jumlah penduduk. Meski di satu sisi mendatangkan berkah, tapi di sisi lain dampak negatif juga sudah terasa kuat.

“Permasalahan dan tantangan yang kami hadapi adalah pariwisata ini selain memberi manfaat positif bagi perekonomian Bali, juga berdampak negatif terhadap alam, manusia, dan kebudayaan Bali,” terang Koster dalam rapat kerja tersebut.

Ia menjabarkan total wisatawan yang datang ke Bali sepanjang 2025 mencapai 16,3 juta orang, terdiri dari wisatawan domestik dan mancanegara.

“Jadi total wisatawan mancanegara dan domestik pada tahun 2025 itu mencapai 16,3 juta orang totalnya, dan penduduk Bali hanya 4,4 juta. Jauh lebih banyak wisatawannya daripada penduduk Balinya itu sendiri,” kata Koster.

Ia merinci, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali melalui jalur udara mencapai 7,05 juta orang pada 2025, meningkat dibandingkan periode sebelum pandemi yang berada di kisaran 6,3 juta pada 2019.

Di sisi lain, wisatawan domestik justru mengalami sedikit penurunan pada 2025. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan penerbangan serta tingginya harga tiket pesawat.

“Wisatawan domestiknya sedikit mengalami penurunan 2025, salah satu faktor di antaranya adalah kesulitan penerbangan dan juga harga tiket yang tinggi itu,” ujarnya.

Dengan jumlah kunjungan yang sangat besar, Bali menjadi kontributor utama pariwisata nasional. Koster menyebut, sekitar 45,8 persen wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia berkunjung ke Bali.

Baca Juga: Gubernur Koster Tak Gentar Hadapi Protes, Paksa Revolusi Pengelolaan Sampah dari Rumah

Tak hanya itu, dari sisi ekonomi, kontribusi pariwisata Bali terhadap devisa nasional juga sangat signifikan. Berdasarkan perhitungan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), devisa dari wisatawan asing di Bali mencapai sekitar Rp176 triliun pada 2025 atau sekitar 55 persen dari total devisa pariwisata nasional.

“Sehingga devisa pariwisata Bali itu adalah 55 persen terhadap devisa pariwisata Indonesia,” kata Koster.

Namun, tingginya jumlah wisatawan tersebut juga membawa sejumlah konsekuensi bagi Bali. Koster mengakui, tekanan terhadap lingkungan dan infrastruktur semakin meningkat seiring pertumbuhan pariwisata.

Ia menyebut sejumlah persoalan yang muncul, mulai dari alih fungsi lahan, peningkatan volume sampah, kerusakan ekosistem, hingga ancaman terhadap ketersediaan air bersih.

Selain itu, kemacetan lalu lintas juga semakin parah, terutama di wilayah padat wisata seperti Badung, Denpasar, Gianyar, dan Tabanan.

Tak hanya aspek lingkungan, Koster juga menyoroti dampak sosial yang muncul, seperti meningkatnya praktik pembelian aset oleh pihak asing, hingga munculnya komunitas asing eksklusif.

Load More