- Tol Gilimanuk-Mengwi 96,84 km ditargetkan beroperasi 2031 dengan investasi Rp12,7 triliun.
- Kehadiran tol diproyeksikan memangkas waktu tempuh Gilimanuk-Mengwi dari 6 jam menjadi 3 jam.
- Gubernur Bali soroti nasib lahan warga yang tertahan status Penlok selama dua tahun tanpa kepastian.
Suara.com - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mematangkan rencana pembangunan Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi di Provinsi Bali. Proyek strategis nasional sepanjang 96,84 kilometer ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada tahun 2031.
Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, mengungkapkan bahwa saat ini proyek tersebut masih dalam tahap persiapan dokumen teknis dan lingkungan yang mendalam sebelum melangkah ke fase konstruksi.
"Saat ini kita sedang melakukan penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), analisis dampak lalu lintas (Andalalin), rekomendasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang, hingga dokumen perencanaan pengadaan tanah," ujar Diana dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Diana menjelaskan, pembangunan tol ini akan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Proses pengadaan badan usaha pelaksana diharapkan dapat dimulai pada tahun 2027 mendatang.
Terkait pendanaan, proyek ini membutuhkan modal yang tidak sedikit. Total investasi yang diperlukan mencapai Rp12,7 triliun dengan rincian biaya konstruksi Rp8,52 triliun dan dukungan konstruksi pemerintah: Rp3,9 triliun.
Kehadiran jalan tol ini diproyeksikan bakal mengubah wajah konektivitas di Pulau Dewata. Salah satu manfaat utamanya adalah efisiensi waktu perjalanan dari pelabuhan di ujung barat Bali menuju wilayah tengah.
"Perjalanan dari Gilimanuk ke Mengwi yang semula memakan waktu sekitar 6 jam, nantinya dapat ditekan secara signifikan menjadi hanya 3 jam saja," imbuh Diana.
Di sisi lain, ketidakpastian jadwal konstruksi mulai menimbulkan keresahan di tingkat akar rumput. Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyoroti nasib lahan warga yang sudah masuk dalam Penetapan Lokasi (Penlok) selama lebih dari dua tahun namun belum ada kejelasan eksekusi.
"Masyarakat terus menanyakan kepastian proyek ini. Karena lahan yang sudah di-penlok tidak bisa dimanfaatkan oleh warga. Bahkan beberapa kali muncul potensi aksi protes, namun sejauh ini masih bisa kami kendalikan," kata Koster.
Baca Juga: Jumlah Turis Empat Kali Lipat dari Penduduk, Gubernur Koster Sebut Orang Bali Makin Terpinggirkan
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi V DPR RI, Lazarus, menegaskan bahwa proyek ini harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Selain untuk mendukung pariwisata, tol ini krusial untuk mengurangi beban lalu lintas di jalan arteri Bali yang kian padat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Rupiah Tertekan saat Fundamental Ekonomi Kokoh, Peluang Dongkrak Ekspor
-
Purbaya Tak Masalah Jika Gaji Menteri Dipotong, Perkirakan Sampai 25%
-
IHSG Akhirnya Perkasa Naik 4 Persen, Ini Pemicunya
-
Purbaya Baru Tahu Ada Pengadaan Motor Listrik MBG, Sebut dari Anggaran Tahun Lalu
-
Kolaborasi Pemerintah & Industri Jadi Kunci Peluang Kerja Tetap Terbuka di Tengah Tantangan Global
-
Jumlah Turis Empat Kali Lipat dari Penduduk, Gubernur Koster Sebut Orang Bali Makin Terpinggirkan
-
Purbaya soal Marak Joki Coretax: Desain Agak Cacat, Sulit Dipakai Orang Biasa
-
Rupiah 'Pura-pura' Kuat di Level Rp17.000, Cadangan Devisa yang Keropos Jadi Ancaman Nyata
-
BRI Salurkan KUR Rp31,42 Triliun, Dorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan
-
Lawan Serbuan Impor, Latinusa (NIKL) Genjot Efisiensi dan Daya Saing di 2026