- IHSG ditutup naik 0,39 persen ke level 7.307, meski sepanjang hari bergerak mixed dan sempat melemah.
- Kekhawatiran konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, revisi proyeksi ekonomi oleh World Bank, serta pelemahan rupiah menjadi faktor utama tekanan.
- IHSG diperkirakan berpotensi menguji resistance 7.350 dengan support di 7.200, didukung indikator teknikal yang masih positif.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghijau hingga akhir perdaganga Kamis, 9 April 2026. Memang, pada perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif sepanjang sesi.
Mengutip riset Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup di level 7.307,59 atau naik 0,39 persen.
Sepanjang perdagangan, pergerakan IHSG cenderung mixed dan sempat melemah setelah sehari sebelumnya mencatatkan penguatan signifikan.
Tekanan pasar datang dari sentimen global, terutama kekhawatiran bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak akan bertahan lama, seiring masih berlanjutnya serangan Israel di Lebanon.
Selain itu, sentimen negatif juga dipicu oleh keputusan World Bank yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen.
Di sisi lain, harga minyak dunia kembali menguat sekitar 3 persen ke kisaran 97–98 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat terkoreksi tajam.
Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah juga ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp17.090 per dolar AS di pasar spot.
Secara sektoral, saham sektor cyclical mencatatkan penguatan terbesar sebesar 1,99 persen, sementara sektor keuangan mengalami koreksi terdalam sebesar 1,23 persen.
Secara teknikal, IHSG dinilai masih memiliki peluang melanjutkan penguatan.
Baca Juga: Banyak Investor Ambil Untung, IHSG Merah Lagi di Sesi I
"Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA20 dan pembentukan histogram positif MACD masih berlanjut. Sehingga IHSG diperkirakan bergerak cenderung menguat menguji level 7350."
Adapun level resistance IHSG berada di 7.350, pivot di 7.300, dan support di 7.200.
Di sisi lain, sentimen tambahan datang dari kebijakan pemerintah terkait pengembangan kendaraan listrik dan energi baru.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan produksi mobil sedan listrik secara massal pada 2028 serta rencana penutupan pembangkit listrik tenaga diesel untuk mendukung transisi energi.
Sementara itu, Presiden Donald Trump juga berencana mengenakan tarif 50 persen terhadap negara yang memasok senjata ke Iran, yang berpotensi menambah ketidakpastian global.
Trafik Perdagangan
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
Terkini
-
Rupiah Kembali Takluk, Terperosok ke Level Rp 17.090/USD
-
OCBC NISP Tebar Dividen Rp1,03 Triliun, Simak Rincian Hasil RUPST Terbaru!
-
Lowongan Kerja Bea Cukai Lulusan SMA Dipercepat Purbaya Jadi Bulan Ini
-
H&M Umumkan 160 Toko Bakal Gulung Tikar di 2026
-
CFX Dorong Kepercayaan Aset Digital Lewat Forum Diskusi CFX Connect Vol.2
-
Selat Malaka Milik Siapa? Bikin Singapura Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz
-
Proyeksi Ekonomi RI Turun, Purbaya Tantang Balik World Bank Suruh Minta Maaf
-
14 Hari Penentu Nasib Dunia: Perundingan AS-Iran Gagal, Ekonomi di Ambang Kehancuran
-
Purbaya Kecolongan soal Motor Listrik MBG, Ada Miskom dengan Anak Buah
-
Mimpi Besar Prabowo Terancam, World Bank Beri Catatan Ini