- Pemerintahan Donald Trump berupaya mengakhiri konflik dengan Iran melalui perundingan diplomasi yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad.
- Amerika Serikat menerapkan tekanan ekonomi berupa blokade maritim dan ancaman sanksi sekunder terhadap pembeli minyak Iran.
- Perundingan terhambat perbedaan durasi penangguhan nuklir serta berlanjutnya serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah di wilayah Lebanon.
Suara.com - Pemerintahan Donald Trump menyatakan optimisme tinggi terkait peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Meski demikian, Washington tetap melancarkan ancaman berupa peningkatan tekanan ekonomi jika Teheran bersikap tidak kooperatif dalam meja perundingan.
Presiden Trump meyakini bahwa konflik yang dimulai bersama Israel pada akhir Februari lalu ini hampir berakhir.
Pernyataan ini muncul di tengah berlakunya blokade pengapalan di pelabuhan-pelabuhan Iran, yang mengakibatkan lalu lintas di Selat Hormuz merosot tajam di bawah level normal.
Sebagai bentuk daya tawar menjelang negosiasi lanjutan, Amerika Serikat memperingatkan akan menjatuhkan sanksi sekunder terhadap negara-negara pembeli minyak Iran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memprediksi bahwa pembelian minyak Iran oleh China akan segera terhenti akibat blokade maritim tersebut.
"Pihak Iran harus menyadari bahwa ini akan menjadi ekuivalen finansial dari aktivitas kinetik (serangan militer) yang telah kita saksikan," tegas Bessent, dikutip via Reuters pada Kamis (16/4/2026) pagi.
Pernyataan ini merujuk pada rangkaian serangan udara AS-Israel yang sebelumnya telah melumpuhkan sejumlah pemimpin Iran serta merusak kemampuan pertahanan dan angkatan laut negara tersebut.
AS juga menegaskan tidak akan memperbarui dispensasi (waiver) yang sebelumnya mengizinkan beberapa negara membeli minyak Rusia dan Iran tanpa sanksi.
Baca Juga: Mossad Punya Bos Baru, Tangan Kanan Benjamin Netanyahu Makin Yakin Bisa Gulingkan Rezim Iran
Langkah ini menandai berakhirnya upaya AS menggunakan dispensasi tersebut untuk menurunkan harga energi global yang melonjak.
Di sisi diplomasi, pejabat AS dan Iran sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Pakistan guna melanjutkan pembicaraan pada akhir pekan ini. Sebelumnya, negosiasi pada akhir pekan lalu berakhir buntu tanpa adanya terobosan.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut komunikasi yang dimediasi Pakistan sebagai proses yang "produktif dan berkelanjutan."
Sementara itu, Panglima Militer Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, telah tiba di Teheran pada Rabu (15/4/2026) untuk berupaya menjembatani perbedaan posisi antara kedua pihak.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyambut baik kedatangan Munir dan menyatakan komitmen Iran dalam menjaga stabilitas kawasan.
Titik Buntu Nuklir dan Eskalasi di Lebanon
Tag
Berita Terkait
-
Janji Xi Jinping kepada Trump: Pastikan Tak Ada Pasokan Senjata China untuk Iran
-
Rusia Bela Hak Nuklir Iran, Lavrov Sebut Pengayaan Uranium untuk Tujuan Damai
-
FIFA Diminta Desak Trump Hentikan Razia Imigrasi Saat Piala Dunia 2026, Emang Berani?
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
Iran Tertawakan Blokade AS di Selat Hormuz, Sindir Trump: Warga Amerika akan Rindu Bensin Murah
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
IHSG Terkoreksi di Sesi I, 344 Saham Anjlok
-
Menilik Labirin Penarikan Dana Trading: Mengapa Transfer Internasional Tak Pernah Instan?
-
Sengketa Rp119 Triliun, Emiten Milik Jusuf Hamka Tangkis Kabar Miring Ini
-
Link Lowongan Kerja Manajer Kopdes Merah Putih 2026: Ada 30.000 Formasi
-
Apa Penyebab Plastik Makin Mahal? Ini Bahan Pokok yang Harganya Ikut Naik
-
OJK Jawa Tengah Konsolidasikan BPR, Target Industri Lebih Sehat dan Efisien
-
BRI Consumer Expo 2026 Surabaya: Promo Rumah dengan Bunga 1,75%, Liburan Impian Cashback Rp8 Juta
-
Trump Bakal Pecat Jerome Powell dari Bos The Fed
-
Harga Pangan Hari Ini Naik Tajam, Cabai Tembus Rp101 Ribu, Telur dan Beras Ikut Merangkak
-
Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.134 per Dolar AS, Simak Prediksi Pergerakannya