- IHSG melemah 0,52% pada Senin (20/4) namun investor asing tetap mencatatkan beli bersih senilai Rp124 miliar.
- Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu pelemahan Wall Street serta potensi koreksi IHSG lanjutan.
- Investor disarankan mencermati sektor energi dan logam mulia sebagai aset pelarian akibat blokade di Selat Hormuz.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan catatan merah setelah ditutup melemah 0,52% pada perdagangan kemarin.
Meski mengalami penyusutan indeks, aktivitas pasar masih diwarnai oleh optimisme investor mancanegara yang tercermin dari aksi beli bersih (net buy) asing senilai kurang lebih Rp124 miliar.
Sejumlah saham big cap dan komoditas menjadi incaran utama para pemodal luar negeri, di antaranya adalah BREN, TLKM, BRMS, BBCA, dan MDKA.
Namun, melihat dinamika global yang kian memanas, IHSG diprediksi masih memiliki potensi untuk melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa, 21 April 2026.
Secara teknikal, pergerakan indeks hari ini akan menguji level pendukung (support) di rentang 7500-7560. Jika tekanan jual terus berlanjut, investor perlu mewaspadai area tersebut guna memitigasi risiko penurunan lebih dalam.
Di sisi lain, level perlawanan (resistance) terdekat berada di posisi 7620-7670. Kehati-hatian menjadi kunci utama bagi para pelaku pasar lokal, mengingat sentimen eksternal dari Timur Tengah sedang berada di titik didih yang cukup mengkhawatirkan.
Wall Street Melemah Akibat Memanasnya Teluk Oman
Pasar saham Amerika Serikat, Wall Street, terpaksa mengakhiri reli panjangnya pada penutupan perdagangan Senin (20/4). Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,26%, sementara S&P 500 turun 0,24% dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 0,01%.
Pelemahan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang kembali memuncak antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Wall Street Pecah Rekor di Tengah Harapan Damainya Perang, Berimbas ke IHSG?
Pelaku pasar global mulai kesulitan mengalkulasi skenario terburuk, terutama setelah pasar saham sebelumnya sempat pulih hingga menyentuh level tertinggi sepanjang masa.
Ketegangan ini bermula dari pernyataan keras Presiden AS, Donald Trump, yang menyebutkan bahwa pihaknya telah menembak dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman.
Langkah agresif ini diambil setelah Iran menolak untuk mengikuti putaran baru pembicaraan damai yang direncanakan oleh AS di Pakistan.
"Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting Iran jika negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan dengan AS," sebagaimana dilaporkan dalam pantauan pasar global.
Situasi ini kian genting mengingat masa gencatan senjata antara kedua negara dijadwalkan berakhir pada pekan ini.
Anomali Bursa Asia di Tengah Blokade Selat Hormuz
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Perang Terus Berlangsung, Wall Street Kembali Merosot
-
MSCI Masih 'Gembok' Saham Indonesia di Indeks Global, Ancaman Downgrade Masih Menghantui?
-
Xi Jinping: Selat Hormuz Harus Dibuka!
-
Melalui FLDP 2026, TelkomGroup Perkuat Pengembangan Kepemimpinan Strategis
-
Pembangunan Kopdes Merah Putih Jauh dari Target, Menteri Zulkifli Keluhkan Ketersediaan Lahan
-
Pengusaha Warteg Khawatir Gas LPG 3Kg Langka
-
PIS: 94 Persen Kru Kapal Pertamina Adalah WNI
-
Naiknya Harga BBM Nonsubsidi Berdampak Terbatas Terhadap Inflasi
-
Ekonomi Indonesia Masih Bisa Tumbuh di atas 5 Persen di Tengah Gejolak Global
-
Indonesia Bidik Swasembada 8 Pangan Strategis di 2026