- OJK mencatat nilai kelolaan Reksa Dana di Indonesia mencapai Rp1.084 triliun hingga Maret 2024 dengan tren pertumbuhan positif.
- Generasi muda di bawah usia 30 tahun menjadi penggerak utama dengan kontribusi mencapai 54 persen dari total investor.
- OJK meluncurkan Program PINTAR untuk meningkatkan edukasi investasi terjangkau bagi masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk semakin aktif berinvestasi di instrumen Reksa Dana.
Hingga Maret 2024, nilai dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) Reksa Dana di Indonesia telah mencapai angka fantastis sebesar Rp1.084 triliun.
Dalam hal ini, Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional (DPVR) OJK, M. Maulana, mengungkapkan bahwa angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 3,97 persen dibandingkan posisi Desember tahun lalu. Meski demikian, potensi pasar modal Indonesia dinilai masih sangat besar untuk terus dieksplorasi.
"Kalau kita lihat data, total dana kelolaan Reksa Dana per Maret sudah mencapai Rp1.084 triliun. Kelihatannya besar, tetapi jika dibandingkan dengan PDB (Produk Domestik Bruto), angkanya baru sekitar 4 persen," ujar M. Maulana di Gedung BEI, Senin (20/4/2026).
Sebagai perbandingan, Maulana menyebutkan bahwa rasio dana kelolaan terhadap PDB di negara tetangga sudah jauh lebih tinggi, seperti Thailand yang mencapai 30 persen dan Malaysia sebesar 36 persen.
"Artinya, peluang kita untuk tumbuh masih sangat besar," tambahnya.
Data OJK menunjukkan tren positif dari sisi jumlah investor. Hingga saat ini, jumlah investor Reksa Dana telah menyentuh angka 23,5 juta orang, naik signifikan sekitar 8,14 persen dari posisi Desember sebelumnya yang berjumlah 19,2 juta orang.
Menariknya, Maulana memaparkan bahwa kelompok usia muda menjadi motor utama pertumbuhan ini. Sebanyak 54 persen investor Reksa Dana saat ini berusia di bawah 30 tahun. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran finansial di kalangan Gen Z dan Milenial mulai meningkat pesat.
"Dengan jumlah penduduk produktif mencapai 196 juta orang, ruang pertumbuhan kita masih luas. Namun, tantangannya adalah literasi pasar modal kita masih 17 persen, sementara inklusinya baru 1,3 persen. Inilah yang perlu kita dorong bersama," bebernya.
Baca Juga: OJK Desak BNI Kembalikan Dana Umat Gereja Rp28 Miliar yang Hilang
Guna menjembatani celah antara literasi dan inklusi, OJK bekerja sama dengan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) menghadirkan Program PINTAR. Program ini dirancang untuk mengedukasi masyarakat agar berinvestasi secara rutin dan berkelanjutan.
Salah satu daya tarik utama program ini adalah aksesibilitasnya yang sangat terjangkau. Masyarakat dapat mulai berinvestasi dengan nominal minimal Rp10.000 secara rutin.
"Program PINTAR bertujuan membentuk investor yang sehat. Terbuka untuk umum tanpa batasan usia, dan ada program khusus untuk generasi muda. Kami ingin menanamkan bahwa investasi tidak harus mahal," jelasnya.
Lebih lanjut, Maulana menjelaskan bahwa pertumbuhan dana kelolaan Reksa Dana berdampak langsung pada perekonomian nasional.
Dana tersebut diinvestasikan kembali ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, hingga sukuk, baik di sektor korporasi maupun pemerintah.
Hal ini memberikan manfaat nyata bagi sektor swasta untuk ekspansi usaha dan pembukaan lapangan kerja, serta membantu pemerintah dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur publik. Adapun, para calon investor agar terhindar dari investasi bodong. Ia menekankan prinsip 2L (Legal dan Logis).
Tag
Berita Terkait
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
OJK Masih Telusuri Pelanggaran Kasus Debt Collector Mandiri Tunas Finance
-
Awas, Kendaraan 'STNK Only' Bisa Jadi Awal Petaka! Ini Penjelasan OJK
-
Aturan Baru OJK Minta Bank Biayai MBG hingga KDMP, Purbaya Klaim APBN Masih Cukup
-
Cegah Efek Domino 'Bank Run', OJK Rilis Panduan Resmi Medsos bagi Perbankan
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Perang Terus Berlangsung, Wall Street Kembali Merosot
-
Saham BULL Masuk Rekomendasi saat IHSG Terancam Koreksi Hari Ini
-
MSCI Masih 'Gembok' Saham Indonesia di Indeks Global, Ancaman Downgrade Masih Menghantui?
-
Xi Jinping: Selat Hormuz Harus Dibuka!
-
Melalui FLDP 2026, TelkomGroup Perkuat Pengembangan Kepemimpinan Strategis
-
Pembangunan Kopdes Merah Putih Jauh dari Target, Menteri Zulkifli Keluhkan Ketersediaan Lahan
-
Pengusaha Warteg Khawatir Gas LPG 3Kg Langka
-
PIS: 94 Persen Kru Kapal Pertamina Adalah WNI
-
Naiknya Harga BBM Nonsubsidi Berdampak Terbatas Terhadap Inflasi
-
Ekonomi Indonesia Masih Bisa Tumbuh di atas 5 Persen di Tengah Gejolak Global