Bisnis / Makro
Selasa, 21 April 2026 | 14:30 WIB
Perkiraan lokasi terusan darat Thailand yang rencananya dibangun untuk menjadi alternatif dan saingan Selat Malaka. [Suara.com/Google Maps]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Thailand merencanakan pembangunan terusan darat senilai Rp531 triliun di wilayah Kra untuk menghubungkan Samudera Hindia dan Pasifik.
  • Proyek yang dijadwalkan rampung tahun 2039 ini bertujuan memangkas durasi pelayaran empat hari serta menekan biaya logistik 15 persen.
  • Infrastruktur ini mencakup pelabuhan laut dalam, jalan raya, dan rel kereta api sepanjang 90 kilometer di Ranong serta Chumphon.

Suara.com - Pemerintah Thailand mengatakan akan membangun terusan darat di selatan wilayahnya, yang akan menghubungkan antara Samudera Hindia dengan Pasifik. Jika terwujud, maka terusan tersebut akan menjadi alternatif atau bahkan saingan bagi Selat Malaka.

Deputi Perdana Menteri Thailand Phiphat Ratchakitprakarn, yang membawahi kementerian transportasi, pada Senin (20/4/2026) mengatakan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan Amerika Serikat membuka mata banyak orang akan tingginya nilai jalur perdagangan strategis.

Pemerintah Thailand kini akan serius menggarap proyek terusan darat senilai 1 triliun baht atau sekitar Rp 531 triliun tersebut, demikian dilansir dari Bloomberg.

"Konflik Timur Tengah menunjukkan kepada kita pentingnya mengendalikan rute transportasi. Thailand akan memiliki keuntungan besar dengan mengoperasikan jalur yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia," kata Phiphat.

Terusan itu diharapkan akan dibangun di area Kra dan menghubungkan antara Teluk Thailand dengan Laut Andaman. Jika terwujud maka jalur baru itu bisa memangkas waktu pelayaran hingga empat hari jika dibandingkan dengan jalur Selat Malaka. Sementara ongkos transportasi juga bisa dihemat hingga 15 persen.

Untuk membangun proyek raksasa itu, Thailand harus membangun pelabuhan-pelabuhan laut dalam di Provinsi Ranong dan Chumphon. Selain itu, akan dibangun juga jalan raya dan rel kereta api sejauh 90 km untuk menghubungkan dua kota tersebut.

Sementara dari sisi politik, pemerintah akan mendorong legislasi yang mengatur pembangunan tersebut. Rencananya terusan darat itu akan rampung pada 2039 tapi para investor baru akan balik modal dalam 24 tahun setelahnya. Targetnya terusan tersebut akan menghasilan 58 juta baht di tahun pertama pengoperasiannya.

Tadinya Thailand berambisi membangun kanal atau terusan air di lokasi tersebut. Tapi besarnya biaya dan risiko keamanan - menciptakan perbatasan fisik dengan wilayah Selatan di dihuni kelompok separatis - membuat pemerintah Thailand mengurungkan niat tersebut.

Adapun proyek terusan darat meski lebih realistis, tapi masih mendapat banyak penentangan di Thailand. Meskipun kajian terhadap proyek itu sudah rampung tahun lalu, tapi beberapa pihak menilai jumlah investasi yang diperlukan terlalu besar.

Baca Juga: PIS: 94 Persen Kru Kapal Pertamina Adalah WNI

Selain itu, pembangunan terusan darat tersebut juga dikhawatirkan akan sia-sia karena kapal-kapal masih akan memilih untuk melewati Selat Malaka, yang secara logistik sudah lebih matang.

Load More